Surono juga menyebut bahwa saat ini wilayah yang rawan jika Anak Krakatau erupsi lagi adalah 5 km dari tubuh gunung. Potensi bahaya dalam radius 5 km dari aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini adalah lontaran material pijar, aliran lava dari pusat erupsi dan awan panas yang mengarah ke selatan. Sedangkan sebaran abu vulkanik tergantung dari arah dan kecepatan angin.
"Paling [parah dampaknya] longsor menimbulkan tsunami. Maksimum radius 5 km dari letusannya, di luar itu bisa joget (aman) ," ujar pria yang kerap disapa Mbah Rono itu saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (27/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Badan Geologi (PVMBG) ini juga menyebut kalau erupsi sepanjang enam bulan sejak Juni 2018 yang dialami Gunung Anak Krakatau adalah hal yang biasa.
"Dari dulu seperti itu lebih banyak aktifnya daripada istirahat karena dia gunung api muda dari pembentukan jadi harus sering meletus," ujar pria yang lebih akrab dipanggil Mbah Rono
"Wah [lamanya] bisa satu tahun pernah. Kalau enam bulan makanan biasa itu. Setiap tahun meletus terus, kalau nggak meletus kapan gedenya," lanjutnya.
Dari beberapa letusan tersebut, umumnya titik letusan selalu berpindah-pindah di sekitar tubuhnya. Mbah Rono juga mengatakan bahwa gunung ini lebih banyak aktifnya daripada diamnya.
Sementara itu situs Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menjelaskan bahwa tubuh Gunung Anak Krakatau muncul ke permukaan laut sejak tahun 1929. Saat ini, Gunung Anak Krakatau mempunyai elevasi tertinggi 338 meter dari muka laut (pengukuran September 2018).
Sebelumnya, G. Anak Krakatau pernah terjadi pada 20 Juni 2016, 19 Februari 2017 berupa letusan strombolian. Sejak tanggal 29 Juni 2018, G. Anak Krakatau kembali meletus hingga tanggal 22 Desember berupa letusan strombolian.
Berdasarkan citra satelit, sebagian besar dari tubuh Gunung Anak Krakatau telah hilang dilongsorkan, yang kemudian diketahui menyebabkan tsunami di beberapa wilayah di Provinsi Lampung dan Banten.
Kendati demikian, pasca tsunami tersebut aktivitas gunung ini masih tinggi meski secara visual gunung tak terlihat jelas karena tertutup kabut.
Sementara itu, berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data visual maupun instrumental PVMBG hingga tanggal 27 Desember 2018 pukul 05:00 WIB, tingkat aktivitas G. Anak Krakatau dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung pukul 06:00 WIB. (kst/eks)