"Untuk existing pelanggan mulai pertengahan atau akhir Januari akan dapat email pemberitahuan kalau layanan Bolt disetop mulai Februari, tidak ada kompensasi apa-apa untuk pelanggan yang masih pakai Bolt," jelas seorang petugas gerai Bolt di kawasan Depok, Rian, yang ditemui Kamis (27/12).
Lebih lanjut Rian menjelaskan bahwa di konternya, sehari bisa ada 20-30 pelanggan yang datang untuk setop berlangganan. Pasalnya, para pengguna Bolt belakangan kesulitan untuk melakukan isi ulang kuota Boltnya. Hal ini seperti dialami Ervina, yang sejak kasus Bolt bergulir November lalu tak bisa menambah kuota nomor Bolt miliknya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang sengaja speed diturunin, karena dengan begitu pelanggan terasa kalau layanan memburuk," tuturnya.
Usaha untuk menelusuri salah satu konter Bolt yang biasanya digelar di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan pun tak berhasil, lantaran konter tersebut tak lagi digelar di mal tersebut. Upaya untuk mengonfirmasikan hal ini kepada pihak internal Bolt pun tak membuahkan hasil.
Sementara itu dari pihak Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pun ketika dikonfirmasi kebenaran Bolt tutup masih merahasiakan soal kelanjutan nasib Bolt.
"Besok (Jumat) kami konpers (konferensi pers) jam 10.30 di ruang serbaguna Kominfo ya," jelas Plt Kepala Biro Humas Kemkominfo, Ferdinandus Setu lewat pesan teks, Kamis malam (27/12).
Sebelum dikabarkan tutup, Bolt telah menunggak pembayaran penggunaan frekuensi 2,3 GHz kepada pemerintah sejak 2016. Total tunggakan mencapai Rp708,3 miliar. Dalam kesepakatan dengan pemerintah yang diumumkan 26 November lalu, Bolt menyatakan akan mencicil utang frekuensi mereka mulai Desember hingga September 2020 dengan lima kali pembayaran. (age)