Dinas LH DKI Respons Anies soal Limbah Cuci Mobil

CNN Indonesia | Jumat, 11/01/2019 20:20 WIB
Dinas LH DKI Respons Anies soal Limbah Cuci Mobil Ilustrasi pencucian mobil. (Foto: CNN Indonesia/Mohammad Ilham)
Jakarta, CNN Indonesia -- Belakangan disebut-sebut usaha pencucian mobil merupakan salah satu faktor penyebab limbah di sungai di Jakarta. Unit Pelaksana Kebersihan Badan Air Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengonfirmasi hal itu benar, namun dikatakan bukan yang terbesar.

Berdasarkan data yang diberikan Plt Kepala UPK Badan Air Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Andono Warih, pada 2017 - 2018 terdapat 7.104 Usaha Kecil Menengah (UKM) baru dari bermacam jenis di Jakarta.

Angka itu dikatakan didapat dari pemberdayaan Pekerja Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU) atau yang dikenal dengan nama pasukan oranye.


Dari data itu, usaha jenis penatu (laundry), restoran, dan bengkel (termasuk cuci mobil) dikatakan merupakan tiga penyumbang terbesar limbah detergen ke sungai.

"Kita punya pasukan oranye, kita bekali mereka untuk membuat google form. Kita sudah dapat 7.104, dari situ ada 274 laundry pada 2017, lalu pada 2018 tambah lagi 191 laundry," jelas Andono.


Menurut Andono, kategori bengkel yang termasuk usaha pencucian mobil di dalamnya belum teridentifikasi jelas jumlahnya. Meski begitu katanya bila dilihat kasat mata, penghasil busa dari pemakaian detergen itu salah satunya dari pencucian mobil.

Andono menjelaskan penyebab limbah detergen yang ditandai penampakan busa di Kali Item dan Kali Sentinong tidak eksklusif berasal dari pencucian mobil.

"Ya sebetulnya kan bukan semata-mata pencucian mobil. Intinya kita juga bukan mengeksklusifkan usaha cuci mobil. Bahkan kita sudah menyimpulkan, rumah tangga kita juga sebagai penyumbang juga," ucap Andono.

Sebelumnya beberapa pihak pengusaha pencucian mobil merasa khawatir karena Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berencana mengatur bisnis mereka pasca penampakan limbah detergen di sungai.


Andono memaparkan salah satu yang lagi diupayakan yaitu penggunaan produk detergen yang tidak banyak busanya. Buat mendapatkan itu disebut bakal banyak melibatkan berbagai pihak, termasuk Kementerian Perindustrian untuk Standar Nasional Indonesia (SNI).

Semakin sedikit busa memang tidak melulu berarti kadar limbah merendah, namun dikatakan penampakan busa mengganggu estetika.

"Kami berharap ada alternatif produk yang tidak banyak busanya. Sekarang itu kondisinya opsi terbatas," ujar Andono.


(fea)