"IMEI ini tolong didoronglah. Soalnya gara-gara ponsel selundupan, orang dagang jadi ngga bisa jualan bener. Dealer jadi compare harga barang kita dengan harga barang BM (black market). Harga beda jauh lah," keluh Hasan saat dihubungi via sambungan telepon, Selasa (29/1).
Menurutnya, tawaran harga ponsel selundupan yang berbeda jauh dengan distributor resmi membuat para penjual eceran lebih memilih membeli barang dari para penyelundup ini. Praktek ini mengakibatkan rusaknya struktur harga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau iPhone itu banyak karena barang aslinya memang mahal ya jadi wajar orang cari yang lebih murah. Black market kan tidak terpotong pajak dan lebih cepat ya biasanya. Oleh karena itu produk belum sampai dijual dipasar, sudah banyak masyarakat yang pakai," lanjutnya.
Kerugian tiap merek ditaksir bos Erajaya ini berkisar antara 20-30 persen tiap bulan. Kerugian itu bergantung pada masa peluncuran ponsel itu sendiri biasanya.
"Jika IMEI tidak dikontrol, harga ponsel akan menjadi tidak stabil. Ponsel BM relatif murah karena tidak comply dengan aturan," tambah Hasan.
"Oleh karena itu, asosiasi mengharapkan pemerintah benar-benar serius untuk mendeploy aturan ini. Ini akan sangat membantu industri untuk bisa bertahan dan bekerja dengan baik," pungkasnya.
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika telah lama mewacanakan untuk meregistrasi IMEI. Namun hingga kini, aturan tersebut belum juga digulirkan. (kst/eks)