"Kami sudah buat satu sistem yang otomatis deteksi ada perilaku yang menyimpang. Misalnya ketika baru mendaftar akun itu langsung add friend seribu. Ini jadi satu salah satu sinyal deteksi akun palsu," ujar Harbath, dalam sosialisasi program "Election Integrity" Facebook, di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (21/1).
Harbath mengatakan dalam penanganan informasi hoaks, Facebook juga menggunakan artificial intellegence (AI) untuk menghapus informasi hoaks. Harbath mengakui banyak pihak menggunakan platform Facebook untuk menyebarkan berita hoaks demi mendapatkan keuntungan materi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:WhatsApp Ancam Tutup Akun Penyebar Hoaks |
Harbath mengatakan juga akan bekerja sama dengan pemeriksa fakta pihak ketiga untuk melawan kekeliruan informasi atau hoaks. Tim pemeriksa fakta ini telah disertifikasi oleh Poynter yang merupakan jaringan pemeriksa fakta internasional yang tidak berpihak terhadap satu kelompok atau golongan.
"Ketika suatu akun pernah membagikan maka mereka akan dapatkan notifikasi bahwa ini hoaks dan kami sarankan agar tak sebarkan lagi," kata Harbath.
Facebook sendiri mengaku telah menghapus 753,7 juta akun palsu secara global dari kuartal ketiga 2018 hingga kuartal pertama 2019. Harbarth mengatakan 98 persen akun tersebut telah dimatikan lantaran terdeteksi melakukan kegiatan yang mengganggu oleh sistem kecerdasan buatan Facebook. Facebook menyebut akun-akun ini dimatikan secara otomatis sebelum ada laporan dari pengguna.
"Kami punya staf yang kami tambah dari 10 ribu ke 20 ribu untuk takedown (akun mencurigakan). Ini dalam bidang keamanan platform," tandas Harbath. (jnp/eks)