Subronto Laras Bantah soal Isu Kembali Lepas Merek Mobil

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 24/01/2019 09:22 WIB
Subronto Laras Bantah soal Isu Kembali Lepas Merek Mobil Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Komisaris PT Indomobil Sukses Internasional Tbk Subronto Laras mengatakan persaingan industri otomotif dalam negeri semakin ketat. Hal ini dipicu dengan ramainya produk kendaraan yang diproduksi di dalam negeri.

Subronto melihat kondisi saat ini perlu mengkaji merek-merek mobil yang dijual di Indonesia dengan titel completely build up (CBU). Dijelaskan Subronto mobil-mobil impor akan semakin terhimpit dan kalah bersaing. Persaingan ketat ini akhirnya memaksa Indomobil melepas keagenan Renault.

Di samping 'cerai' dengan Renault, grup Indomobil diisukan akan kembali melepas merek kendaraan.


Menanggapi kabar tersebut, Subronto mencoba membantah jika akan kembali melakukan pemutusan hubungan kerja dengan perusahaan otomotif yang melakukan impor kendaraan secara utuh atau pun dengan perusahaan kendaraan yang sudah merakit lokal produknya.

"Enggak ada itu, enggak benar," kata Subronto kepada CNNIndonesia.com, Selasa (22/1).

Setelah ditinggal Renault, grup Indomobil bertanggung jawab dengan sejumlah merek mobil penumpang, yaitu Audi, Volkswagen, Nissan, Datsun dan Suzuki divisi mobil dan motor.

Untuk kategori kendaraan komersial, yakni Hino, Volvo truck, Renault truck. Pemanufaktur yang telah merakit lokal sejumlah produknya adalah Audi, Datsun, Nissan, Suzuki, dan Hino.

Mengaca pada kasus Renault, Subronto menginginkan keseriusan prinsipal membangun fasilitas produksi di dalam negeri sehingga tidak perlu impor mobil. Karena itu, pihaknya mempertimbangkan apakah perusahaan tersebut wajib dipertahankan.

"Perkembangan (industri otomotif Indonesia) ke depan sudah berubah. Izin impor enggak gampang, tidak ada gunanya buat kami. Kalau kami enggak punya pabrik (produksi Renault di dalam negeri) buat apa?," ucap Subronto.

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian mengendalikan impor mobil secara utuh dilakukan pelaku usaha otomotif yang tidak menguntungkan bagi Indonesia. Kemenperin menghindari impor kendaraan tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan ekspor kendaraan ke luar negeri dari Indonesia.

Sementara ketika disinggung wacana pabrikan otomotif Volkswagen membangun pabrik di Indonesia justru Subronto agak pesimistis. Sebab pertimbangan prinsipal membangun fasilitas pabrik adalah volume penjualan.

"Bangun pabrik rasanya enggak gampang, kecuali ada kemudahan. Memproduksi mobil itu harus ada lokal konten, minimum 40 persen. Dan minimal bisa jual 3.000 unit per tahun," ujar Subronto. (ryh/mik)


BACA JUGA