Gojek berhasil mengamankan sekitar setengah dari target ini setelah beberapa investor sebelumnya sepakat untuk menambah investasi mereka dengan total nilai US$920 juta (Rp13 triliun), seperti diungkap tiga sumber yang mengetahui rencana investasi ini kepada TechCrunch.
Lesepakata ini akan diumumkan pekan depan. Jika investasi tersebut berhasil didapat, maka akan meningkatkan valuasi gojek senilai US$9,5 miliar (Rp134,3 triliun), seperti disebutkan salah satu sumber TechCrunch. Saat ini Gojek tengah aktif berburu investor lain untuk mencapai targetnya itu. Dana itu akan digunakan untuk memperluas pasar Gojek di negara baru dan mendorong layanan fintech mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumya, total investasi yang berhasil dikumpulkan Gojek lebih dari US$2 miliar dari berbagai investor. Pendanaan ini berhasil mengerek nilai valuasi Gojek ke angka US$ 5 miliar. Namun, sebagian besar dana ini didapat dari putaran pendanaan terakhirnya yang ditutup tahun lalu dan berhasil meraup US$1,4 miliar.
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi |
Gojek juga dirumorkan tengah melakukan pembicaraan untuk mengakuisisi JD.ID senilai US@1 miliar. Namun, keduanya belum mencapai kesepakatan. Akuisisi ini akan memperkuat posisi Gojek di layanan e-commerce Indonesia bersama dengan tiga unicorn lain, Lazada (milik Alibaba), Tokopedia (yang dibekingi Alibaba dan Softbank Vision Fund), dan Bukalapak.
Persaingan pasar layanan transportasi online kian sengit apalagi melihat laporan Google dan Temasek yang menyebut layanan ini akan tumbuh dari US$8 miliiar pertahun pada 2018 menjadi US$31 miliar pada 2025. Indonesia sendiri menguasai setengah dari angka ini.
Dengan penduduk 620 juta dan makin meningkatnya akses internet, Asia Tenggara menjadi bayang-bayang bagi pertumbuhan startup yang menarik setelah China dan India. Perusahaan raksasa China seperti Tencent dan Alibaba aktif berinvestasi di wilayah ini dalam beberapa tahun belakangan.
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi