Facebook Bayar Pengguna Agar Pasang Aplikasi Mata-mata

CNN Indonesia | Rabu, 30/01/2019 15:44 WIB
Facebook Bayar Pengguna Agar Pasang Aplikasi Mata-mata Ilustrasi (REUTERS/Regis Duvignau)
Jakarta, CNN Indonesia -- Facebook dilaporkan sengaja membayar orang secara diam-diam agar mereka mau diawasi dan dibaca perilaku penggunaan ponsel pintar. Pengawasan ini dilakukan kepada pengguna lewat aplikasi yang dinamakan "Facebook Reasearch".

Para pengguna yang diawasi Facebook ini dibayar hingga US$20 atau sekitar Rp280 ribu per bulan untuk mengunduh aplikasi "Facebook Research" di ponsel pintar, seperti diungkap TechCrunch. Facebook membayar pengguna berusia 13 hingga 35 tahun yang menggunakan Android dan iOS Apple untuk ikut dalam proyek penelitian mereka ini.

Aplikasi itu mirip dengan Onavo Protect yang dilarang Apple pada Juni lalu dan disingkirkan dari toko aplikasi pada Agustus.


Menurut seorang pakar keamanan, aplikasi ini memungkinkan Facebook untuk mengumpulkan data termasuk pesan pribadi di aplikasi media sosial, foto dan video. Facebook bahkan meminta penguna untuk menangkap gambar apa yang mereka beli di e-commerce terbesar Amerika Serikat, Amazon.

Di samping itu, Facebook juga bisa mengumpulkan data email, pencarian web, dan aktivitas peluncuran situs. Aplikasi ini juga dapat melacak pengguna secara real-time melalui aplikasi pelacakan lainnya yang berada di ponsel pengguna.

Untuk menutupi keterlibatan langsung Facebook, program ini dikelola melalui layanan pengujian beta Applause, BetaBound, dan uTest dan disebut sebagai "Project Atlas."

Facebook mengaku kepada TechCrunch bahwa mereka memang menjalankan sebuah program untuk mengumpulkan data tentang kebiasaan dan perilaku pengguna.

Langkah dari Facebook ini berpotensi melanggar kebijakan Apple karena banyak pengguna yang juga mengunduh aplikasi tersebut di Apple. Apple tidak memberi komentar, tapi orang dalam Apple mengatakan pihaknya telah mengetahui permasalahan ini.

Pada 2018, Apple menghapus aplikasi keamanan Onavo Facebook dari App Store karena tidak mematuhi peraturan privasi. Peraturan ini menyatakan sebuah aplikasi "tidak boleh mengumpulkan informasi tentang aplikasi lain yang di-instal pada perangkat pengguna", seperti dilaporkan CNBC. (jnp/eks)