Kemenperin Rayu Korea Bangun Pabrik Baterai Mobil Listrik

tim, CNN Indonesia | Kamis, 31/01/2019 11:59 WIB
Kemenperin Rayu Korea Bangun Pabrik Baterai Mobil Listrik )Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus merayu Jepang dan Korea Selatan untuk menanamkan investasi membangun pabrik baterai kendaraan listrik di Indonesia.

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Harjanto dalam acara seminar otomotif mobil listrik Indonesia-Jepang di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (29/1).

"Yang kami dorong dengan Jepang ini adalah, bukan hanya jepang, Korea juga saya sampaikan. Ini pabrik baterainya baru materialnya saja. Dan itu kami dorong investor, tidak hanya Jepang," kata Harjanto.


Menurut Harjanto Indonesia mempunyai sumber daya alam melimpah seperti nikel dan cobalt sebagai bahan dasar pembuatan baterai mobil listrik.

Pemerintah terus berupaya mempercepat industri kendaraan listrik di dalam negeri. Sebagai bukti awal tahun ini meresmikan peletakan batu pertama pembangunan QMB New Energy Materials di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah.

Proyek industri smelter berbasis teknologi hydrometallurgy ini akan memenuhi kebutuhan bahan baku baterai lithium generasi kedua nikel kobalt yang dapat digunakan untuk kendaraan listrik. Total investasi yang ditanamkan US$700 juta dan akan menghasilkan devisa senilai US$800 juta per tahun.

Dari sana setiap tahunnya akan memproduksi sebanyak 50.000 ton produk nikel hidroksida, 150.000 ton baterai kristal nikel sulfat, 20.000 ton baterai kristal sulfat kobalt, dan 30.000 ton baterai kristal sulfat mangan.

Pada Agustus 2018 telah pemerintah meresmikan kawasan pabrik pembuatan pabrik baterai kendaraan listrik dengan investor Indonesia Weda Bay Industria Park (IWIP).

Investasi di Halmahera mencapai US$10 miliar atau sekitar Rp144 triliun. Anggaran yang digelontorkan untuk pembangunan kawasan industri tahap pertama, sebesar US$5 miliar, kemudian tahap berikutnya sebesar US$5 miliar.

Harjanto mengatakan para investor dari negara itu hingga kini belum membuat keputusan. Sebab, yang jadi pertimbangan bahwa pengembangan kendaraan listrik juga dilakukan para investor-investor tersebut di negaranya masing-masing.

Harjanto menambahkan tidak hanya dari Jepang dan Korea, pemerintah turut membuka kesempatan kepada setiap investor yang mau membenamkan uangnya untuk pengembangan kendaraan listrik di Tanah Air.

"Kami mau material bisa diproduksi. Jadi harapannya bisa di sini bisa ada industri lebih dalam lagi sehingga nanti kalau masuk ke era kendaraan listrik baterainya pakai produksi dalam negeri," ucap Harjanto.

Sementara itu Deputy Director-General, Manufacturing Industries Bureau, Ministry of Economy, Trade and Industry (METI) Yoji Ueda mengatakan bahwa Indonesia dan Jepang telah lama menjalin hubungan kerja sama terutama dalam pengembangan sektor industri otomotif.

"Di sektor otomotif, Jepang telah memainkan peran utama dalam kontribusi sebagai pemain bisnis utama. Selain itu, Jepang dengan sumber daya alam yang terbatas, terus melakukan pengamanan pasokan energi yang stabil," kata Ueda. (ryh/mik)