Meet the Geek

Oskar Riandi, Si 'Pencipta' Mesin Transkrip Debat Pilpres

Ervina Anggraini, CNN Indonesia | Minggu, 17/02/2019 14:59 WIB
Oskar Riandi, peneliti transkripsi suara. (Foto: CNN Indonesia/Ervina Anggraini)
Jakarta, CNN Indonesia -- Teknologi pengenal suara kian mudah ditemui pada ponsel hingga perangkat rumah tangga yang bisa mengenali bahasa asing hingga perintah berbahasa Indonesia. Di tengah gempuran produk dan layanan berbasis perintah suara seperti Google Assistant, Siri hingga Amazon Echo, peneliti asal Indonesia membuat teknologi untuk konservasi bahasa Indonesia.

Oskar Riandi menuturkan ketertarikannya di bidang transkripsi suara berawal ketika ia menonton film Star Trek saat masih kecil. Kala itu, ia merasa tertantang melihat bagaimana mesin bisa mengeluarkan suara dan merespons perintah manusia.

"Waktu kecil, saya sering nonton film Star Trek dan melihat mesin bisa merespons pakai suara. Yang ada di benak saya, suatu hari harus bisa bikin sesuatu seperti itu -- membuat mesin yang berpikir seperti manusia," jelasnya saat berbincang di kantor CNNIndonesia.com di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, akhir Januari lalu.


Selepas SMA, Oskar melanjutkan studi teknik elektro di Institut Teknologi Bandung selama sebulan hingga mengantongi beasiswa untuk studi neural network di Waseda University, Jepang.


Ketertarikannya di bidang transkripsi suara kian terasah saat membantu riset proyek agen pintar berbentuk robot, Galatea yang bisa berinteraksi hingga menunjukkan emosi saat berhadapan dengan manusia. Lulus di tahun 1992, Oskar kembali ke Indonesia dengan melakukan berbagai riset berbasis transkripsi suara.

Di tahun 2006, pria kelahiran Cirebon ini mengembangkan riset otomatisasi subtitling televisi dan mengajukan pendanaan. Namun saat itu ia harus menelan pil pahit lantaran proposalnya tidak lolos pendanaan karena dianggap belum waktunya teknologi transkripsi suara diadopsi di Indonesia.

Tak patah arang, ia kemudian mengajukan pendanaan lewat kerja sama dengan Telkom RDC ke Asia Pacific Telecommunity. Proposalnya dinyatakan lolos dan ia berhak untuk mendapat pendanaan riset transkripsi suara.

"Saat itu dapat pendanaan riset dari asing. Fokus saya memang ICT untuk berkebutuhan khusus, saya mengembangkan sistem berupa transkripsi suara agar difabel bisa mengoperasikan komputer," ucapnya.

Lisan yang dirilis pada 2008 dibekali fitur perintah, pengendali, dan pendiktean menggunakan suara. Sistem ini kemudian digunakan untuk membantu siswa SLB di Cicendo, Bandung.

Transkripsi suara berbasis Linux inilah yang kemudian mendorong Oskar mengembangkan idenya menjadi layanan transkripsi suara yang bisa dipakai di berbagai kebutuhan.


Oskar kemudian mengajukan paten sistem transkripsi otomatis ke tempatnya bekerja selama puluhan tahun, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Paten sistem transkripsi otomatis disetujui pada tahun 2011 dan produknya sempat dikomersialisasi. Di saat bersamaan, Oskar harus menghadapi gempuran dari luar negeri yang juga mulai melakukan riset teknologi transkripsi suara berbahasa Indonesia.

"Jujur sebagai peneliti saya sempat syok karena dua raksasa teknologi dunia saat itu juga mengembangkan mesin transkripsi bahasa Indonesia yang jauh lebih bagus dari punya saya," katanya.

Untuk mengejar ketertinggalan, Oskar memutuskan hengkang dari BPPT di tahun 2013. Tujuannya tak lain untuk fokus melakukan riset dan pengembangan sistem transkripsi suara berbahasa Indonesia.

Agar layanan yang dibuat berbeda dengan paten yang diajukannya, ayah tiga anak ini kemudian mendirikan BahasaKita-- dengan produk Notule yang fokus pada transkripsi dan analisis suara menjadi teks.

"Dari situ (Notula) berkembang ke mana-mana dengan teknologi suara bisa menjadi teks, analisis biometrik, hingga catatan kesehatan agar datanya bisa tersimpan dan lebih jelas," jelasnya. (evn/asa)
1 dari 2


BACA JUGA