Ekonom Universitas Indonesia Fithra Hastiadi mengatakan ojek online sebenarnya berperan sebagai feeder yang menyambungkan masyarakat dengan transportasi publik.
"Kita lihat 40% lebih itu ojek online tujuannya atau destinasinya adalah ke stasiun atau ke terminal terdekat. Kalau kita lihat pembangunan masif LRT dan MRT itu sebenarnya kita masih butuh feeder. Ada potensi zero ridership nantinya," ujar Fithra usai acara peluncuran hasil survei Rised di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (11/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ekstremnya zero ridership ya, itu secara semantik artinya potensi bahwa MRT tidak akan terutilisasi dengan baik karena feeder-nya kurang, pemerintah belum punya feeder yang memadai," ujar Fithra.
Akan tetapi, patut diingat tidak semua masyarakat penikmat transportasi publik berdomisili di dekat stasiun atau terminal. Oleh karena itu, masyarakat membutuhkan feeder atau ojek online.
Berdasarkan hasil survei, 79,21 persen pengguna menggunakan ojek online untuk bertransportasi sejauh 0 sampai 10 kilometer per hari. Persentase ini menunjukkan ojek online digunakan untuk mengisi kebutuhan masyarakat dalam bermobilitas jarak pendek.
Dalam hal ini, ojek online mendukung konsumen agar terhubung dengan transportasi publik massal seperti MRT, LRT, atau Transjakarta. Sementara itu, yang menggunakan ojek online untuk rentang jarak 15 km hingga lebih dari 25 km per hari hanya 20,78 persen responden. (jnp/evn)