Kendati demikian, penggunaan GPS kini diperdebatkan karena memecah konsentrasi pengendara akibat melakukan aktivitas lain selain berkendara.
Saat ini ada tiga cara memanfaatkan GPS yang digemari sopir. Pertama GPS yang terintegrasi pada head unit mobil, umumnya GPS telah tersedia sejak mobil keluar dari pabrik. Kedua perangkat GPS yang tersedia di toko seperti produk aftermarket dan ketiga memanfaatkan aplikasi GPS pada telepon genggam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, perangkat GPS yang tersedia di toko-toko yang masuk kategori produk aftermarket. Aksesori-aksesori tersebut menurut Budi bisa meningkatkan potensi kecelakaan karena belum melalui uji kelayakan.
Oleh karena itu, pihaknya melarang segala penggunaan aksesori GPS yang tidak melalui proses manufaktur kendaraan.
Dalam kesempatan yang sama Direktur Lalu Lintas Jalan Kemenhub Pandu Yunianto mengatakan bahwa memanfaatkan teknologi GPS yang aman adalah dengan mendengar perintah suara.
Dikatakan Pandu beberapa pabrikan mobil telah menerapkan sistem GPS tersebut yang memungkinkan pengemudi tidak terganggu dengan aktivitas lain.
"Kalau GPS yang di motor itu lebih bahaya karena itu dia harus megang-megang ponselnya dulu. Nah kalau pake holder (penyangga) itu kan masuknya jadi pake aksesoris. Kalau yang holder di mobil juga masuknya aksesoris," tutup Pandu. (jnp/mik)