Pakar Sebut Perlakuan Orang Utan di Rehabilitasi Salah Kaprah

CNN Indonesia | Sabtu, 16/02/2019 19:03 WIB
Pakar Sebut Perlakuan Orang Utan di Rehabilitasi Salah Kaprah Orang utan (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pakar menyebut terdapat salah kaprah terhadap praktek persiapan orang utan yang akan dilepas ke alam liar oleh pusat rehabilitasi. Hal ini diungkap Spesialis Reintroduksi Orangutan asal Universitas Indonesia Rondang Siregar. Menurutnya, pusat rehabilitasi terlalu memanusiakan orang utan.

"Pusat rehabilitasi di Indonesia menurut pandangan saya masih salah kaprah. Orang utan di rehabilitasi terlalu dimanusiakan. Jadi nanti tidak punya kemampuan saat dilepas-liarkan," ujar Rondang usai diskusi di Universitas Atmajaya, Jakarta Selatan, Jumat (15/2).

Bagi Rondang, seharusnya pusat reintroduksi atau rehabilitasi membekali orang utan dengan kemampuan agar bisa bertahan hidup di alam liar.


Reintroduksi pada dasarnya adalah melepas liarkan individu yang telah di rehabilitasi ke tempat atau wilayah yang merupakan empat hidup satwa liar tersebut sebelumnya. Reintroduksi juga bertujuan agar satwa menjadi mandiri dan mencapai jumlah populasi yang layak untuk bertahan hidup.

Rondang mengatakan salah satu kesalahab pusat rehabilitasi misalnya ketika memberi makan orang utan. Pusat rehabilitasi memberi makanan yang telah diolah terlebih dahulu.

Hal ini akan membuat orang utan tidak memiliki kemampuan untuk mengolah makanan. Misalnya cara membuka durian, kelapa, atau meminum tebu.

"Orang utan misalnya saat makan itu dipotong-potong. Saat di hutan itu dia tidak tahu cara proses makanan. Kemudian kalau saya bilang orang utan ini harus diajarkan untuk mengolah makanan," kata Rondang.

Rondang juga mengatakan orang utan di pusat rehabilitasi harus dipeluk selama 24 jam. Hal tersebut salah kaprah karena justru tidak akan membuat orang utan mandiri. Hal tersebut akan mengurangi ketahanan hidup orang utan di alam liar.

"Perilaku induk itu pasti kan akan diikuti dan diajarkan ke anaknya. Kalau kita kan tidak, makanan bubur saja kita suapi , karena keterbatasan pengetahuan juga, ujar Rondang.

Rondang mengatakan idealnya orang utan harus direhabilitasi di hutan yang notabene merupakan tempat hidup orang utan, bukan di kandang. Hal tersebut akan membuat orang utan terbiasa untuk memahami dan terbiasa untuk hidup di hutan.

"Idealnya juga membesarkan orang utan itu di hutan bukan kandang. Karena di kandang tidak belajar apa-apa," kata Rondang. (jnp/eks)