Peranti lunak yang dikembangkan oleh OpenAI ini bisa digunakan untuk mengembangkan berita, melakukan tinjauan produk, translasi, merangkum, dan berbagai keperluan menulis lainnya.
Hasil tulisan software ini bahkan disebut lebih realistis dari software yang pernah dikembangkan sebelumnya. Kecanggihan software ini lantaran memilki banyak tolak ukur pemodelan bahasa.
Peneliti menyebut bahwa model software mereka yang dinamakan GPT-2 "melampai model bahasa lainnya" ketika diuji untuk melakukan tugas seperti menulis masukan untuk Wikipedia, berita, atau buku tanpa perlu pelatihan khusus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami mengkhawatirkan aplikasi berbahaya (malicious) dari teknologi ini, (sehingga) kami tidak merilisnya model yang masih dilatih (ini)," jelas peneliti OpenAI dalam tulisan di blognya, Kamis (14/2), seperti dikutip AFP.
"Masyarakat luas perlu menjadi lebih kritis terhadap teks yang mereka temukan di dunia maya. (Ini serupa) dengan fenomena deep fakes, yang mengharuskan orang lebih waspada dengan video (palsu)," tulis peneliti tersebut.
Pusat penelitian OpenAI, mendapat sokongan dana dari Tesla milik Elon Musk, Amazon dan Microsoft. (afp/eks)