Ketua Yayasan Orangutan Sumatera Lestari, Nurhadi Siswoyo mengatakan jika lokasi pembangunan proyek berada tepat di kantong populasi terpadat orangutan.
"Pembangunan proyek berada di dataran rendah bisa mengubah ekosistem, padahal area itu menjadi tempat favorit orangutan," ucap Nurhadi kepada CNNIndonesia.com lewat sambungan telepon, Senin (4/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Proyek pembangunan terjadi di blok barat yang merupakan kantong populasi terbesar habitat orangutan. Sementara populasi di sibual buali hanya sebesar 80an ekor," imbuhnya.
"Usaha untuk menyatukan orangutan di kedua blok sudah dilakukan, tapi tak bisa dipungkiri jika pembangunan PLTA akan memengrauhi kondisi karena aliran air ditutup selama 18 jam yang memengaruhi kehidupan mereka," ucapnya.
Senentara itu, Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Sumatera Utara pada Senin (4/3) memutuskan bahwa Surat Keputusan Gubernur tentang Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) PLTA Batang Toru telah sesuai ketentuan yang berlaku.
”Selain memenuhi AMDAL, PLTA Batang Toru telah melaksanakan kajian Environmental and Social Impact Assessment (ESIA) yang menjadikannya pertama di Indonesia yang melaksanakan Equatorial Principle,” ujar Firman dalam keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com.
”PLTA Batang Toru telah memiliki juga kajian-kajian gempa yang dipersyaratkan seperti geologi dan geofisika, termasuk Seismic Hazard Assessmentdan Seismic Hazard Analysis.” (evn)