Nathaniel Gleicher, kepala keamanan siber Facebook, menulis dalam blognya, bahwa orang-orang yang diblokir mengidentifikasikan diri mereka sebagai penganut politik sayap kanan radikal, maupun aktivis anti sayap kanan.
Berdasarkan Nathaniel, halaman-halaman dengan nama seperti "Anti Far Right Extremist". "Atheists Research Centre", dan "Politicalised", telah mengundang sebanyak 175 ribu pengikut di Facebook, serta 4.500 di Instagram.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Facebook, Twitter, serta Alphabet Inc berada di bawah tekanan regulasi di seluruh dunia untuk melawan penyebaran misinformasi yang mencederai pemilihan suara dengan cara menggoreng isu, atau mendukung propaganda kampanye.
Bulan lalu, Facebook telah memblokir ratusan akun, laman, serta grup dari Indonesia, yang menciptakan jaringannya setelah mereka menemukan bahwa akun-akun tersebut terhubung dengan grup penyebar hate speech dan berita palsu.
Pemblokiran ini datang setelah pemimpin Facebook, Mark Zuckerberg, merilis memo yang menyatakan bahwa perusahaannya menjadi "jaringan sosial dengan fokus privasi", dengan menekankan pesan langsung, serta enkripsi ujung-ke-ujung melebihi pembagian ke publik. Gleicher mengakui bahwa pergeseran ini dapat mempersulit penegakan aturan lebih sulit kedepannya.
"Tentunya bagian yang anda lihat pada catatan Mark membuat kami berpikir bagaimana kami bergerak menjadi media yang berfokus pada privasi. Kami sedang mengerjakannya, dan akan mendiskusikan lebih lanjut," kata Gleicher. (lea/eks)