'Mereka menggunakan kuis dan survey dengan judul seperti , "Apa warna matamu menceritakan tentang kepribadianmu?", untuk mendapatka keuntungan mengakses data pribadi pengguna Facebook dan menargetkan para pengguna dengan iklan-iklan dari yang tak berwenang,' demikian pernyataan perusahaan media sosial berbasis di Amerika Serikat tersebut seperti dikutip dari CNN, Minggu (10/3).
Beberapa data pribadi yang dicuri hacker-hacker itu adalah kontrol atas peramban internet pada komputer, informasi privat pada akun Facebook, dan daftar kawan-kawannya termasuk yang disembunyikan dari Publik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa yang telah terjadi itu pun mengingatkan kenangan akan skandal Cambridge Analytica yang bekerja untuk pemenangan Donald Trump dalam Pilpres Amerika Serikat pada 2016 silam. Perusahaan data itu disebutkan telah mengumpulkan data Facebook hingga puluhan juta pengguna di Amerika Serikat tanpa diketahui masing-masing pengguna.