Fakta Teknologi Kotak Hitam di Ethiopian Airlines

Tim CNN Indonesia, CNN Indonesia | Senin, 11/03/2019 20:37 WIB
Fakta Teknologi Kotak Hitam di Ethiopian Airlines Ilustrasi. (AP Photo/Ben Curtis)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dunia penerbangan kembali berduka dengan jatuhnya maskapai Ethiopian Airlines dengan nomor penerbangan ET 302 yang jatuh pada Minggu (10/3) pagi waktu setempat. Setelah hampir 24 jam, akhirnya kotak hitam pesawat tersebut ditemukan.

Masih dibutuhkan waktu untuk memproses isi dari kotak hitam pesawat Ethiopian Airlines yang jatuh. Sedikit kilas balik, berikut penjelasan teknologi yang digunakan dalam kotak hitam.

Kotak hitam atau black box tak seperti namanya. Kotak yang berwarna oranye ini merekam data waktu, ketinggian, kecepatan angin, arah pesawat hingga setiap keputusan pilot. Dengan segala data yang disimpan, kotak hitam menjadi salah satu pelengkap untuk mencari penyebab jatuhnya pesawat.
Black box pun memiliki rekam suara di kokpit yang memuat suara informasi seperti mesin hingga bunyi sinyal darurat atau peralatan yang macet.


Dalam satu unit kotak hitam menghasilkan lebih dari beberapa terabytes data sehingga data tak mudah dikirimkan via internet saat penerbangan.

Kotak hitam ini pun memiliki teknologi underwater locator beacon (ULB) yang bisa mengirimkan sinyal/ping ketika sensornya menyentuh air. Teknologi ini bisa mentransmisikan sinyal dari kedalaman hingga 4.200 meter.

Tim pencari dilaporkan berhasil menemukan 'kotak hitam' dari pesawat Boeing 737-8 MAX bernomor penerbangan ET 302 maskapai Ethiopian Airlines yang jatuh pada Minggu (10/3). Namun, menurut pihak maskapai kondisinya rusak sebagian.

Seperti dilansir Associated Press, Senin (11/3), kotak hitam yang berhasil ditemukan adalah perekam data penerbangan dan percakapan kokpit (flight data dan cockpit voice recorder). Kedua perangkat itu dalam kondisi rusak.
"Kita akan lihat apa bisa kita ambil dari benda itu," kata sumber Ethiopian Airlines.

Pakar forensik dari Israel sudah tiba untuk membantu proses penyelidikan. Menurut juru bicara Ethiopian Airlines, Asrat Begashaw, pengusutan kecelakaan itu akan dipimpin oleh pemerintah Ethiopia dibantu Amerika Serikat, Kenya, dan beberapa negara lain.

"Hal ini butuh waktu," kata Menteri Perhubungan Ethiopia, James Macharia.

Pesawat Boeing 737-8 MAX milik Ethiopian Airlines jatuh di sebuah tanah kosong di dekat Desa Tulu Fara, Kota Bishoftu, tak jauh dari di ibu kota Addis Ababa. Burung besi itu dalam perjalanan menuju Nairobi, Kenya. Sebanyak 157 penumpang sekaligus awak dipastikan meninggal. (age/age)


ARTIKEL TERKAIT