Hal ini terungkap dari hasil reka ulang yang dilakukan Boeing atas jatuhnya pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan 610 ke laut Jawa yang terjadi tahun lalu.
Reka ulang ini dilakukan menggunakan simulator yang disediakan Boeing. Dalam simulasi tersebut, Boeing membuat skenario terjadinya kesalahan pembacaan software akibat satu kerusakan sensor. Kerusakan ini membuat perangkat lunak dari pesawat tersebut bermanuver untuk mengatasi kegagalan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, pada kecelakaan Lion Air, pilot telah menekan tombol tersebut sebanyak 24 kali untuk mencegah mereka jatuh, seperti dilansir dari The New York Times.
Sehingga, hanya dengan menonaktifkan sama sekali kendali MCAS yang bisa membuat anomali ini berhenti. Hal ini membutuhkan dua sakelar tambahan pada konsol dan memutar roda konsol untuk benar-benar memulihkan kendali pesawat secara manual.
Namun, Kru Lion Air harus melakukan hal ini sembari menghadapi berbagai suara peringatan, salah satunya adalah perbedaan data sensor yang terlihat pada posisi pilot, maupun co-pilot, dan kebingungan dengan posisi ketinggian mereka.
Lihat juga:Boeing Telah Perbarui 'Software' 737 Max |
Pihak-pihak yang bekerja dalam percobaan tidak mengetahui seberapa kuat sistem otomatis tersebut hingga mereka mencoba simulator 737 MAX. Merespon masalah tersebut, Boeing mengajukan pembaruan yang akan memberikan pilot kuasa lebih
dalam mengontrol pesawat.
Dilansir dari The Independent, tiga pihak anonim yang mengerti tentang pertemuan tertutup dalam investigasi ini, meyakinkan bahwa pembaruan nantinya akan memperkecil kemungkinan kekeliruan yang terjadi antara sistem otomatis, dan pilot. (lea/eks)