Harapan Sedan Berdiri di Keramaian MPV Indonesia

Febri Ardani, CNN Indonesia | Kamis, 04/04/2019 09:35 WIB
Harapan Sedan Berdiri di Keramaian MPV Indonesia Generasi kedelapan Toyota Camry meluncur di Indonesia, Selasa (8/1). (Foto: CNN Indonesia/Febri Ardani)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sedan, mobil yang desainnya terdiri dari partisi tiga boks, yaitu area bonnet, kabin, dan bagasi ini merupakan barang amat mewah di dalam negeri. Saat ini sedan paling murah yang bisa dibeli di Indonesia harganya Rp300 jutaan dan banyak pemain sudah mengundurkan diri dari segmen eksklusif ini.

Bila dinilai dari arah kebijakan pemerintah yang sekarang berlaku, level kemewahan sedan setara mobil 4X4 yang kena beban Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) mulai 30 persen hingga 125 persen tergantung kapasitas mesin. Mobil jenis lain yang punya desain dua boks seperti MPV, SUV, dan City Car PPnBM-nya paling rendah 10 persen sampai 125 persen.

PPnBM merupakan salah satu faktor kuat yang menyebabkan harga ritel sedan tinggi di dalam negeri. Sekarang sudah lumrah di pikiran orang-orang sedan merupakan lambang kemewahan yang cuma bisa dibeli segelintir orang.


Bila Anda mencari sedan saat ini, pilihan mainstream cuma ada dua, yaitu merek Toyota dan Honda. Hanya dua merek ini yang terbilang punya model lengkap, yakni kelas mini, small, dan medium.

Mazda dan Nissan juga masih menawarkan sedan, namun cuma produk kelas atas. Merek lain Suzuki, Proton, Hyundai, Kia, sudah lama menyerah pada sedan.

Kalau merek-merek dari Asia itu bukan kelas Anda, sebenarnya ada banyak merek mewah macam BMW, Mercedes-Benz, sampai Lexus, Bentley, Ferrari, Lamborghini, dan Rolls-Royce yang menawarkan sedan buat melayani para bos, pejabat kasta atas, atau petinggi perusahaan.

Pasar Sedan di Bawah 1 Persen

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), wholesales sedan pada 2018 sejumlah 6.704 unit atau cuma mewakili 0,6 persen dari total penjualan roda empat Indonesia yang mencapai 1,15 juta unit.

Saban tahun penjualan sedan tak pernah berkembang. Pada 2017 tercatat penjualannya 9 ribu unit, pada 2016 nyaris 14 ribu unit, pada 2015 sebesar 18 ribu unit, dan pada 2014 pernah sampai 22 ribu unit.

Ada dua teori umum yang sering dipakai buat menjelaskan bahwa sedan memang bukan pilihan kebanyakan orang di Indonesia. Pertama tentu saja karena harganya yang mahal, bukan cuma banderol ritel yang tinggi tetapi juga beban konsumen membayar pajak tahunan pun menguras dompet.

Teori kedua adalah masalah fungsionalitas. Semua sudah tahu, selain harga, kebanyakan preferensi masyarakat Indonesia membeli mobil soal kapasitas penumpang.

Sedan cuma muat lima penumpang sedangkan kata kunci bila mau mencari volume penjualan di dalam negeri adalah 'muat tujuh penumpang'. Selama tiga tahun ke belakang setidaknya ada tiga investasi besar dari Mitsubishi, Sokonindo (DFSK), dan Wuling, ketiganya bukan membidik sedan melainkan memilih memproduksi MPV dan SUV yang tersedia pilihan tujuh penumpang.

Persepsi lain yang bisa jadi umum soal sedan yaitu ground clearance rendah yang bikin sulit melintasi jalanan rusak, terlalu lebar buat jalan sempit tipikal perjalanan luar kota, dan tidak muat di garasi. Padahal, semua itu belum tentu kelemahan sedan.

Teori lainnya yakni tentang harga jual mobil bekas. Di Indonesia, depresiasi nilai sebagian besar model sedan lebih parah ketimbang MPV ataupun SUV di Indonesia.

Produksi Lokal Sedan

Atas dasar pertimbangan sulitnya menjual sedan, tidak banyak produsen yang berani memproduksinya di Indonesia.

Salah satu produsen yang 'nekat' melakukan itu yakni Toyota. Sejak 2013, pabrik Toyota di Karawang sudah memproduksi sedan Vios yang kemudian bukan cuma dikonsumsi domestik tetapi juga dikapalkan ke luar negeri. Sebelumnya Vios yang dijual di Indonesia diimpor dari Thailand.

Toyota juga merupakan salah satu merek yang loyal jualan sedan di Indonesia. Walau pasar semakin redup, Toyota pada tahun ini sudah memulai menyegarkan satu per satu model sedan yang start dari generasi baru Camry.

Generasi kedelapan Camry itu meluncur pada Januari lalu dengan membawa perubahan besar. Camry kini dirancang di atas platform Toyota New Global Architecture (TNGA) yang menjadikannya produk kedua berbasis teknologi baru itu di Indonesia setelah CH-R.

Camry dengan TNGA yang tetap ditawarkan dengan varian hybrid merupakan bentuk kepercayaan diri Toyota sekaligus modal penting buat menghadapi era otomotif baru di depan mata terkait harmonisasi PPnBM dan teknologi listrik.

Penting buat menyimak strategi Toyota, sebab merek ini merupakan pemimpin pasar di dalam negeri yang gerak-geriknya bisa dijadikan patokan merek lain.


Harapan Sedan Berdiri di Keramaian MPV IndonesiaDraf wacana Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). (Foto: CNN Indonesia/ Fajrian)
Sedan Makin Murah

Di dalam draf harmonisasi PPnBM diketahui pemerintah menginginkan tidak ada lagi pengkategorian sedan atau non-sedan, itu artinya nanti beban PPnBM sedan bisa sejajar dengan MPV, SUV, atau city car. Harapan baru membesarkan pasar sedan kini terbuka lebar.

Garis besar harmonisasi PPnBM yakni penilaian beban pajak kendaraan akan berdasarkan emisi bahan bakar, kapasitas mesin, dan teknologi listrik. Acuan lama yaitu sedan atau non-sedan dan 4X2 atau 4X4 tidak lagi dipakai.

Executive General Manager Toyota Astra Motor Fransiscus Soerjopranoto meyakini bila harmonisasi PPnBM diterapkan sedan bisa laku kembali. Pada periode 1980 - 2000 sedan pernah jadi salah satu primadona di Indonesia.

"Saya yakin sedan bisa makin murah. Aturan pemerintah yang baru akan mengubah peta otomotif," kata Soerjopranoto belum lama ini.

Menurut Soerjopranoto banderol mobil di Indonesia bakal menyesuaikan PPnBM baru. Opsi menurunkan harga dikatakan bukan sesuatu yang tabu untuk dilakukan Agen Pemegang Merek (APM).

Berdasarkan draf harmonisasi PPnBM, kisaran beban sedan yang masuk kategori mobil di bawah 10 penumpang berkisar 15 - 70 persen.

Ada satu cara APM bisa menjual sedan dengan beban PPnBM lebih kecil hingga berpotensi menurunkan harga jual lebih jauh, yakni dengan teknologi listrik. Semua tipe kendaraan -termasuk sedan- dengan teknologi Plug-in Hybrid, listrik murni, atau fuel cell di Indonesia kena PPnBM nol persen. Sedangkan kendaraan hybrid non plug-in PPnBM-nya berkisar 5 - 12 persen.

"Ini bukan hanya tren baru, tapi juga membuat peta baru otomotif Indonesia. Sedan dipacu lebih besar," kata Soerjopranoto.

Bagian Toyota yang lain di dalam negeri, yaitu pengelola fasilitas produksi, Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), sudah menyatakan siap masuk ke era baru otomotif Indonesia berbasis pasar terbuka dan teknologi listrik.

Presiden Direktur TMMIN Warih Andang Tjahjono pernah mengatakan saat ini kajian tentang pilihan produk lokal untuk dijadikan berteknologi listrik sedang dilakukan. Menurut dia semua model yang sudah diproduksi lokal dipertimbangkan, itu berarti Vios, Yaris, Sienta, Innova, atau Fortuner.

"Ya semua produk, ada peluang ke situ. Semua produk akan distudi, prioritas produk mana yang pindah dari ICE [internal combusition engine] ke EV [electric vehicle]," ungkap Warih.


(fea)