Kendala Generasi Baru Toyota Supra Sulit Dijual di Indonesia

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Senin, 08/04/2019 18:38 WIB
Kendala Generasi Baru Toyota Supra Sulit Dijual di Indonesia Toyota Supra. (Foto: Toyota)
Jakarta, CNN Indonesia -- Toyota Astra Motor (TAM) sedang menimang kemungkinan memboyong generasi baru Supra ke Indonesia. Mobil sport yang kini dirancang atas kolaborasi dengan BMW itu sudah mendebut global pada awal Januari 2019.

Executive General Manager (TAM) Fransiscus Soerjopranoto menjelaskan berbagai aspek sedang dipelajari. Kata dia pihaknya tak bisa sembarang menjual Supra lantaran segmentasinya sangat sempit.

Supra generasi kelima diketahui lahir dengan platform yang sama dengan BMW Z4 generasi ketiga. Selain platform, Supra juga menggendong mesin serupa dengan Z4, yaitu enam silinder 3.000 cc plus turbo.


Mesin Supra yang dikawinkan dengan transmisi otomatis delapan percepatan itu memiliki 335 tenaga kuda dan torsi 494 Nm. Opsi mesin 2.000 cc sampai saat ini hanya dijual untuk pasar Jepang.

Menurut Soerjopranoto, Supra sudah menuai respons positif di Indonesia. Dia mengatakan banyak orang kaya Indonesia yang mulai berburu Supra ke dealer Toyota.

"Tapi animo luar biasa. Kenapa? Karena banyak konsumen yang tanya ke dealer. Mereka sampai tanya harga," ungkap pria yang akrab dipanggil Soerjo itu.

Kendala Generasi Baru Toyota Supra Sulit Dijual di IndonesiaInterior Toyota Supra, terdapat aura kabin BMW. (Foto: Dok. Toyota)
Kendala Supra

Soerjo mengakui menjual Supra di Tanah Air tidak akan mudah. Kendala pertama soal harga jualnya yang bisa selangit dan spesifikasi mesin sulit disesuaikan di dalam negeri.

Dihitung dengan berbagai pajak dan lain sebagainya, Supra diperkirakan bakal dibanderol Rp2 miliar saat mengaspal di Indonesia. Harga itu lebih dua kali dari harga 86 saat ini yakni Rp728 juta.

Banderol Supra juga diperkirakan bisa lebih mahal lagi bila dijual dengan patokan harmonisasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang sedang diwacanakan pemerintah. Dalam regulasi PPnBM yang baru itu, besar beban pajak akan condong dinilai berdasarkan emisi gas buang.

Dalam draf harmonisasi diketahui untuk kategori mobil penumpang di bawah 10 orang dengan kapasitas mesin di antara 1.500 cc dan 3.000 cc besar PPnBM-nya 15 persen hingga 40 persen tergantung emisi CO2. Kategori ini kemungkinan area Supra yang bermesin asli 2.998 cc dan 1.998 cc.

Pada kategori itu, bila emisinya di bawah 150 g/km maka PPnBM-nya 15 persen, 151 - 200 g/km (20 persen), 201 - 250 g/km (25 persen), di atas 250 g/km (40 persen).

Soerjo pesimistis mesin Supra bisa memenuhi aturan baru soal emisi. Dia khawatir bila dijual di Indonesia justru harga per unit tidak sesuai ekspektasi.

"Akan mahal itu, karena [PPnBM] yang baru hitungan dari emisi," kata Soerjo.

Sebab banyak pertimbangan, Soerjopranoto belum bisa memastikan Supra akan dijual di dalam negeri. Menurut dia ada kemungkinan model di atas mobil sport 86 itu bakal dipasarkan bukan melalui TAM melainkan melalui importir umum.

"Produk global memang mungkin masuk Indonesia. Misal RAV4, itu produk global, tapi yang jual importir. Jadi APM [Agen Pemegang Merek] tidak kenalkan karena merasa tidak perlu," ucap Soerjo.

"Jadi ya ditunggu saja akan masuk ke market Indonesia atau tidak," katanya lagi. (ryh/fea)