Alfons mengatakan hasil final perhitungan suara formulir C1 yang diunggah ke server atau situs KPU dalam format foto, sehingga tidak mungkin bisa diubah.
Sebelum formulir C1 diunggah, ada beberapa proses offline yang dilakukan KPU. Saat melakukan perhitungan suara, komputer yang digunakan KPU juga dalam keadaan offline sehingga tidak mungkin menjadi sasaran peretasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Data TPS di input di KPU wilayah dan komputer-komputernya tidak terhubung ke internet. Rekapnya juga manual," ujar Alfons.
Oleh karena itu, ia mengatakan kendati situs KPU diretas tapi manipulasi suara tidak mungkin dilakukan. Mengingat formulir C1 yang berada di situs KPU berupa foto, sementara data-data perhitungan suara tidak tersambung ke server atau situs KPU.
Bahkan, sekalipun server dan situs KPU berhasil diretas dan datanya diubah namun Alfons mengatakan hal itu tidak adak memengaruhi server perhitungan suara yang sebenarnya. Sementara data KPU yang di back up dengan data fisik yang dianggap sah dan digunakan untuk proses verifikasi secara independen oleh masyarakat.
"Justru KPU memberikan C1 kepada masyarakat sebagai upaya transparansi sehingga data hasil pemilu bisa di cross-check oleh siapa pun dan menghindari tuduhan-tuduhan pemilu curang," imbuhnya.
ser
"Aneh kalau ada yang menuduh datanya dimanipulasi. Menuduh tanpa dasar dan memberikan kesan seolah-seolah KPU curang walaupun sistemnya sudah cukup transparan," Alfons.
Sebelumnya lini masa Twitter ramai cuitan akun @Silvy_Riau02 yang menuding KPU mengunggah data pemindaian formulir 01 yang oleh situs kawalpemilu.org dengan menyebut sebagai konspirasi untuk memenangkan pasangan nomor urut 01.
Menggapi hal itu, Ainun Najib sebagai inisiator kwalpemilu.org membantah cuitan tersebut. Dalam cuitannya, Ainun menerangkan jika laporan hasil penghitungan suara dilakukan oleh relawan dan bisa diikuti oleh semua, siapapu dan apapun pilihan politiknya. (jnp/evn)