Dua Tokoh Mobil Listrik Pendukung Prabowo

Febri Ardani, CNN Indonesia | Sabtu, 13/04/2019 10:48 WIB
Dua Tokoh Mobil Listrik Pendukung Prabowo Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan usai diperiksa sebagai saksi kasus dugaan korupsi penjualan aset PT PWU di Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Surabaya, Senin (17/10). (Foto: ANTARA FOTO/Umarul Faruq)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan menteri di kabinet Presiden Joko Widodo yang pernah tersandung kasus pengadaan mobil listrik, Dahlan Iskan telah memutuskan mendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto. Dalam Pidato Kebangsaan Prabowo yang digelar di Surabaya, nama Dahlan disebut sebagai salah satu tokoh pendukung.

Pada 2011, Dahlan diangkat menjadi Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sebelum itu dia pernah menjabat Direktur Utama PLN sejak 2009.

Dahlan merupakan seseorang yang punya ambisi menciptakan industri mobil listrik dalam negeri. Dia pernah memprakarsai penciptaan banyak mobil listrik, di antaranya Ahmadi, mobil sport Tuxuci dan Selo serta MPV mirip Toyota Alphard, Gendhis.


Saat menjabat sebagai Menteri BUMN, Dahlan pernah mengusulkan pengadaan kendaraan listrik untuk dipakai saat Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Pasific Economic Cooperation XXI yang digelar di Bali pada Oktober 2013. Ada tiga BUMN yang terlibat dalam proyek ini yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI), Perusahaan Gas Negara (PGN), dan PT Pertamina.

Ketiga BUMN itu disepakati membiayai pengadaan 16 kendaraan listrik senilai Rp32 miliar. PT Sarimas Ahmadi Pratama yang ditunjuk sebagai pihak swasta yang mengerjakan pengadaan tersebut.

Proyek itu dinilai bermasalah karena kendaraan listrik yang dijanjikan dianggap tidak memenuhi kualifikasi untuk digunakan pada konferensi tingkat tinggi.

Direktur Sarimas, Dasep Ahmad, ditetapkan sebagai tersangka kemudian divonis tujuh tahun penjara yang kemudian ditambah menjadi sembilan tahun. Dahlan juga sempat dijadikan tersangka.

Dalam pernyataannya di acara Pidato Kebangsaan, Dahlan memutuskan beralih mendukung Prabowo bukan karena pertimbangan nasibnya selama lima tahun ke belakang. Menurut dia kejadian selama periode itu adalah risiko sebagai pengabdi.

"Karena itu hari ini saya menjatuhkan pilihan kepada Pak Prabowo, bukan karena mempertimbangkan nasib saya selama lima tahun terakhir. Itu saya anggap risiko sebagai pengabdi, seperti juga risiko pak Jokowi menjadi presiden difitnah selama 4,5 tahun. Bahkan juga seperti pak Prabowo yang difitnah selama 17 tahun," kata Dahlan.

Belum diketahui pasti apa peran Dahlan dalam pemerintahan Prabowo bila terpilih menjadi presiden. Namun mengingat latar belakangnya berkaitan dengan teknologi mobil listrik, ada kemungkinan dia bakal mendukung pernyataan Prabowo sebelumnya terkait mobil nasional.

"Kita ingin punya mobil buatan Indonesia yang benar-benar buatan Indonesia, bukan mobil etok-etok (bahasa Jawa: pura-pura)," kata Prabowo di kampanye terbuka di Solo, pada Rabu.


Selain Dahlan, Prabowo juga menyebut tokoh lain pendukungnya yang berkaitan dengan mobil listrik, yaitu pakar otomotif dan praktisi industri mobil, Mochtar Niode.

"Mochtar Niode, ahli mobil listrik, bukan mobil etok-etok," kata Prabowo di Surabaya.

Mochtar pada awal tahun ini pernah mengindikasikan Esemka merupakan produk China. Menurut dia kriteria mobil nasional bukan mobil yang diimpor kemudian diganti mereknya lalu diakui sebagai mobil nasional. (fea/mik)