Argumen Penjualan Mobil Jeblok Jelang Pilpres 2019

Febri Ardani, CNN Indonesia | Jumat, 19/04/2019 14:51 WIB
Argumen Penjualan Mobil Jeblok Jelang Pilpres 2019 Suasana Indonesia International Motor Show (IIMS) 2018. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pelaku industri otomotif menginginkan bayang-bayang Pemilihan Presiden (Pilpres) yang sempat mengiringi penurunan penjualan kendaraan selama tiga bulan ke belakang, segera berakhir.

Kendati pencoblosan sudah dilakukan pada Rabu (17/8), Pilpres belum sepenuhnya usai. Saat ini semua pihak lagi menunggu hitung-hitungan suara resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang akan menentukan siapa pemimpin pembangunan negeri untuk lima tahun ke depan.

Sosok itu diharapkan bisa bikin reda guncangan yang melanda otomotif selama masa panas kampanye Pilpres.


Tolak ukur gangguan itu terbaca dari berbagai hal, ambil contoh pada penjualan mobil. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) merekam penjualan selama kuartal pertama (Januari - Maret) 2019 berjumlah 253.863 unit, angka itu turun dibanding periode sama tahun lalu 292.031 unit.

Bukan hanya itu, deklarasi investasi otomotif dari kalangan asing seakan lenyap menjelang Pilpres. Paling hangat adalah rencana investasi Hyundai Motor Corporation (HMC) di Indonesia yang berkumandang sejak Januari.

Komitmen investasi senilai Rp14 triliun untuk membangun pabrik itu sempat dikatakan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan akan maju menjadi nota kesepahaman pada Februari. Namun kini kelanjutan strategi produsen otomotif terbesar di Korea Selatan itu belum terdengar lagi.

Contoh lainnya yang seolah menguap mengenai regulasi Low Carbon Emmission Vehicle (LCEV) dan Peraturan Presiden (Perpres) terkait kendaraan listrik yang sampai sekarang belum juga diundangkan.

Hal-hal itu menguatkan asumsi bahwa panasnya pertarungan antara pasangan Capres dan Cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno memberi pengaruh besar pada otomotif Indonesia.

2 Hal Penyebab Penurunan Penjualan

Sekretaris Gaikindo Kukuh Kumara mengamini penurunan penjualan mobil yang dikatakan sebesar 13,1 persen karena suhu politik yang memanas. Meski begitu dia menyebut pengaruhnya bukan itu saja.

"Jadi ada dua hal yang saling berkaitan. Kalau politik itu kan memang ada hajatan politik jadi orang-orang fokus di situ, Pemilu ini terbesar di dunia, kompleks, dan lain sebagainya. Kedua itu terlambat keluarnya NJKB (Nilai Jual Kendaraan Bermotor), nah itu sepertinya kementerian sibuk hajatan tadi," kata Kukuh saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (19/4).

Menurut Kukuh, NJKB resmi biasanya dikeluarkan Kementerian Dalam Negeri pada November agar para Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) dan dealer-nya bisa menentukan harga ritel mobil pada Januari.

Namun disebut Kukuh, NJKB resmi terakhir dikeluarkan pada 10 April yang notabene telat empat bulan.

"Karena itu belum keluar, orang [dealer] mau jual mobil patokannya enggak ada. Itu berdampak, sampai kami kirim surat ke kementerian dan sampai saat ini belum dibalas. Tapi 10 April NJKB keluar walau sudah terlambat empat bulan," kata Kukuh.

Kukuh berharap para dealer bisa beradaptasi dengan cepat setelah ketetapan NJKB rilis. Menurut dia penjualan mobil berpotensi naik karena bakal menghadapi Lebaran yang sudah umum diikuti momen mudik.

"Mudah-mudahan seperti itu, apalagi ini menjelang Lebaran. Apalagi ada jalan tol baru, orang maunya kan mobil baru, jadi ekonominya bergerak," kata Kukuh.

Perbaikan penjualan juga diharapkan distributor terlaris di Indonesia, Toyota Astra Motor (TAM). Executive General Manager TAM Fransiscus Soerjopranoto mengatakan semoga kemarau penjualan pada momen Pilpres tidak berlangsung lama.

Menurut Soerjopranoto, penjualan setiap merek otomotif akan terkerek naik setelah Pilpres. Bukan hanya karena Lebaran dan mudik, tetapi juga ada dua pameran otomotif yang akan digelar,  yaitu Indonesia International Motor Show (IIMS) pada 25 April dan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) pada Agustus nanti.

"Jadi IIMS, terus puasa dan Lebaran, habis itu juga ada GIIAS. Nah nanti di akhir tahun, [penjualan] recovery lagi," kata Soerjopranoto. (ryh/fea)