Awalnya, Elang Jawa dimasukkan dalam spesifikasi elang brontok. Namun, berdasarkan spesimen Elang Jawa yang dibuat oleh Max Bartels dari Pasir Datar, Cimungkid, Sukabumi, elang ini dibuat takson khusus. Untuk menghormati Bartels, takson khusus ini lantas diberi nama Spizaetus bartelsi.
"Dulu peneliti Belanda [...] menemukan spesies burung Elang Jawa di daerah Cimungkad, Sukabumi [...] sekarang masih menjadi wilayah TNGP. Sekarang spesimennya ada di Leiden (Belanda) ada museumnya dan disimpan disana," jelas Kepala Balai Besar TNGGP Wahju Rudianto melalui Humas Balai Besar TNGGP, Ade Bagja Hidayat, saat dihubungi via sambungan telepon oleh CNNIndonesia.com, Selasa (23/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebab, menurut Ade burung itu baru menetas sekitar satu sampai dua minggu saja. Hal ini tampak dari bulu-bulunya yang masih berwarna keputihan seperti seperti kapas.
"Berarti ketersediaan makanan di TNGP masih melimpah, mereka masih nyaman untuk berkembang biak di wilayah ini," tuturnya lagi.
Keberadaan satwa yang kerap diidentikkan dengan lambang NKRI yakni Garuda Pancasila ini pertama kali terpantau pada 13 April 2019.
Tim monitoring kemudian kemudian melakukan pemantauan untuk kedua kalinya pada 18 April lalu. Umur anak elang Jawa diperkirakan masih sekitar satu hingga dua minggu.
Sebelumnya, pada 10 Juli 2018, tim TNGP juga sempat menemukan sarang Elang Jawa dengan anakan yang diperkirakan berusia 4 bulan. Terpantau anak Elang Jawa yang di sarang itu baru bisa berdiri dan sesekali bersembunyi di sarang.
Sementara indukan elang itu juga terus mengawasi dari kejauhan (terutama dari pohon pemantauan) serta sesekali mendatangi sarang. Hal ini menandakan sifat sensitifnya terhadap kehadiran manusia (keberadaan tim pengamat yang berada sekitar 60 meter dari pohon sarang). (eks)