Untung Rugi Teknologi 'Barcode' dalam Bisnis Otomotif

ray, CNN Indonesia | Selasa, 14/05/2019 13:17 WIB
Untung Rugi Teknologi 'Barcode' dalam Bisnis Otomotif Stiker barcode menempel di kaca mobil-mobi keluaran terbaru. (Foto: CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Barcode atau tanda kode sudah lumrah digunakan untuk mendata, melacak, atau saat melakukan berbagai metode pembayaran di mana pun. Teknologi ini dianggap sudah memudahkan manusia agar lebih ringkas dan meninggalkan berkas fisik.

Tanda kode atau tanda batang juga yang membantu industri otomotif berkembang dalam ketersediaan data, pengiriman cepat dan akurat ke seluruh pihak yang terlibat.

Trelleborg Automotive Americas misalnya yang menggunakan barcode di pabrik-pabriknya selama lebih dari 10 tahun. Trelleborg Automotive Americas merupakan bagian dari Trelleborg AB, sebagai pemasok global untuk industri otomotif, kedirgantaraan, konstruksi dan lainnya.


Divisi ini umumnya bergerak pada sektor komponen yang terbuat dari karet seperti dudukan mesin dan sebagainya uang disuplai ke Ford dan General Motors, serta pemasok lain, TRW dan Delphi.

Menurut perusahaan teknologi barcode sangat berperan demi kemudahan saat bekerja. Melalui teknologi itu semua data tersusun pada sistem, bukan lagi berkas konvensional.

"Kami ingin membawa sistem barcode ke tingkat berikutnya, menyimpan banyak data dan menyingkirkan dokumen manual kami," jelas John Jacobs, pengembang IT di Trelleborg, mengutip MHL, Selasa (14/5).

"Sebelumnya, ada sistem kertas di mana operator akan mencatat semua informasi, bagian yang mereka buat, jenis memo apa yang dihasilkan dan mesin apa yang mereka pakai."

Kerja Barcode

Barcode membuat pekerjaan Trelleborg lebih simpel dari saat bahan baku tiba di pabrik sampai barang jadi dikirim ke pelanggan.

Ketika bahan baku tiba di pintu dermaga, karyawan di area penerima memindai label barcode pada kotak menggunakan komputer seluler dengan pemindai terintegrasi. Setelah diterima, bahan disimpan di salah satu dari beberapa gudang yang berlokasi di setiap pabrik.

"Kami menggunakan nomor seri barcode pada kotak untuk melacak. Setelah bahan dipindai, sistem memberi tahu kami ke salah satu gudang kami," ucap Jacobs.
Sebelum disimpan, bahan melewati proses pemeriksaan kualitas. Setelahnya pesanan bahan akan muncul dari lantai produksi, dan pengemudi truk akan mengambil bahan dari gudang.

Sementara itu industri otomotif Indonesia juga menjadi pihak yang terbantu dengan sistem tersebut. Mereka menggunakannya sampai pada saat proses logistik atau pengiriman mobil dari pabrik ke dealer, lalu dealer ke konsumen.

Stiker barcode biasanya ditempel di sisi kiri kaca mobil bagian kiri atau kanan. Lebaran kertas putih tu berisi informasi mengenai nomor mesin, nomor rangka, dan warna kendaraan.

Digunakan Sejak 1981

Automotive Industry Action Group (AIAG) membuat tim barkoding pada 1981 untuk mengembangkan standar industri otomotif memakai tanda kode. Sejak saat itu tanda kode berperan dalam standar rantai pasokan untuk industri ini.

Pada tahun 1984, AIAG mengadopsi simbologi alfanumerik Kode 39 dan menerbitkan standar tanda kode seluruh industri pertama: Simbol Barcode (B-1) dan Label Identifikasi Pengiriman atau Suku Cadang (B-3), mengutip Webscaninc.

Sistem menyimpan data dengan tanda batang disebut sangat lengkap dan efektif. Teknologinya memudahkan melacak suatu komponen atau benda bergerak. Karena itu sistem ini sangat bermanfaat untuk industri otomotif.

Namun di sisi lain penggunaan tanda kode disebut banyak disalahgunakan, bahkan barcode yang menempel di kaca mobil berpotensi kemunculan BPKB ganda karena fungsinya menyimpan identitas suatu kendaraan. (ryh/mik)


BACA JUGA