Pemerintah Batasi Koneksi Medsos, Pedagang Online Protes

eks, CNN Indonesia | Kamis, 23/05/2019 17:45 WIB
Pemerintah Batasi Koneksi Medsos, Pedagang Online Protes Ilustrasi (Istockphoto/Grinvalds)
Jakarta, CNN Indonesia -- Para pelaku jual beli online memprotes pembatasan media sosial yang dilakukan pemerintah. Mereka menganggap pembatasan media sosial dan layanan perpesanan instan ini mengganggu kelancaran kegiatan e-commerce.

Hal ini seperti dikeluhkan Jordi, seorang penjual diecast online di Jakarta. Jordi yang biasa menjual diecast lewat forum di Facebook dan OLX mengaku kesulitan dengan adanya pembatasan media sosial ini.

"Sangat terganggu karena adanya pembatasan akses medsos untuk transaksi jual beli terutama di Facebook," jelasnya ketika dihubungi via pesan teks, Kamis (23/5).


Diecast sendiri adalah mainan koleksi yang diproses dengan metode die-casting, biasanya berupa miniatur mobil. Selain itu, menurutnya ia kesulitan untuk melakukan konfirmasi kepada pembeli.

"Kadang tidak terkirim chat buyer (pembeli) [...] (padahal) biasanya kalau buyer sudah lihat iklan di forum, dia langsung WA (WhatsApp) gw," lanjutnya lagi.

Untuk mengakali kesulitan akses koneksi media sosial dan pesan instan ini, Jordi memilih untuk menggunakan koneksi WiFi. Selain itu, Jordi juga menggunakan layanan pesan instan alternatif seperti Facebook Messenger dan SMS.

Sementara itu, Meilisa, pedagang baju yang kerap memanfaatkan Instagram untuk berjualan menyebut beruntung tidak mengalami kesulitan.

Sebab, ia mengandalkan layanan WiFi untuk berjualan. Hanya saja beberapa pelanggannya kesulitan mengunggah foto pesanan, bukti pembayaran, dan sulit menerima pesan.
"Pakai WiFi [...] untungnya ngga apa-apa. Cuma customer (pelanggan) aja ada beberapa ngga bisa send pic (kirim foto), sama chat beberapa pending (tertunda)," tuturnya saat dihubungi terpisah.

Keluhan juga datang dari Depok, Nurul Fitriani, pengusaha kue kering mengaku pembatasan media sosial ini membuat terganggunya komunikasi dengan pemesan. Karena pemesan sulit untuk dihubungi, akibatnya menghambat proses pengiriman pesanan.

Pedagang online juga meminta agar pemerintah tidak memberlakukan kebijakan ini terlalu lama menjelang Idul Fitri. Hal ini diungkap pengusaha konveksi yang mengandalkan Facebook Ads untuk berpromosi, Muhammad Ikhsan.

"Ya, kalau Facebook down cuma 1-2 jam tak masalah, tapi kalau sampai berhari-hari tentu akan ada dampaknya [...] Apalagi ini dekat-dekat Lebaran, harusnya bisnis lancar, bisa meraup untung dari bisnis baju via media sosial," ujarnya lewat pesan teks.

Keluhan soal terhambatnya jualan online gara-gara keputusan pemerintah melakukan pembatasan media sosial.

Akun @FerdyRagnarok mengeluh kebijakan ini mematikan mata pencaharian orang yang mencari uang secara online.





Sementara akun @siscadianita mengaku kesulitan untuk mengunggah foto barang-barang dagangannya.


Pemerintah menyatakan telah membatasi akses sosial media dan layanan pesan instan seperti WhatsApp dan akan dilakukan secara bertahap.

Hal itu dilakukan karena kelima operator telekomunikasi di Indonesia tidak bisa langsung memberlakukan pembatasan akses sekaligus karena besarnya jumlah pengguna ponsel di Indonesia.

Pembatasan akses media sosial dilakukan dengan mengurangi kecepatan pengguna dalam mengunggah dan mengunduh konten seperti foto dan video untuk mencegah penyebaran informasi hoaks terkait kerusuhan 22 Mei. (eks/eks)