India Mau 'Setrum' Sepeda Motor dan Bajaj

Reuters, CNN Indonesia | Jumat, 24/05/2019 14:24 WIB
India Mau 'Setrum' Sepeda Motor dan Bajaj Ilustrasi polusi di India. (Foto: REUTERS/Saumya Khandelwal)
Jakarta, CNN Indonesia -- Negara yang menjual lebih dari 21 juta unit sepeda motor per tahun, India, dilaporkan berencana mengelektrifikasi kendaraan roda dua pada 6 - 8 tahun ke depan. Langkah ini ditujukan untuk memangkas polusi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar berbasis fosil.

Reuters mendapatkan informasi dari sumber yang mengatakan bahwa draf proposal soal elektirifikasi itu berasal dari Niti Aayog (The National Institution for Transforming India) yang dikepalai Perdana Menteri India Narendra Modi.

Institusi itu, yang berperan penting bagi pembuatan kebijakan di India, juga merekomendasikan kendaraan roda tiga yang dikenal di Indonesia dengan sebutan bajaj turut serta di era elektrifikasi.


Sumber yang menolak diungkap identitasnya juga mengatakan proposal itu tidak diumumkan ke publik dan masih butuh persetujuan dari pemerintah.

Di India, penjualan skuter listrik cuma secuil dibanding total penjualan motor di India. Meski begitu pada 12 bulan terakhir penjualannya terekam naik lebih dari dua kali lipat menjadi 126 ribu unit dari sebelumnya 54.800 unit.

"Kami telah tertinggal dalam mengelektrifikasi segmen mobil ... India telah memutuskan untuk memimpin pada roda dua dan roda tiga," ucap sumber, Kamis (23/5).

Proposal itu sedang dikerjakan oleh Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perhubungan. Bila disetujui, maka proyek ini membuka pasar baru buat produsen Jepang seperti Yamaha dan Honda yang sudah berencana meluncurkan motor listrik di India.

Pemerintahan Modi telah mencanangkan target ambisius pada 2017 untuk mengelektrifikasi mobil baru pada 2030 namun hal itu mendapat perlawanan dari industri otomotif. Sekarang pemerintahan berharap bisa mendapatkan 15 persen porsi kendaraan listrik dari seluruh penjualan nasional dalam lima tahun ke depan.

Perlambatan era teknologi listrik pada mobil di India dikarenakan tidak ada kebijakan jelas terkait insentif pada produksi lokal dan penjualan. Selain itu kekurangan infrastruktur seperti stasiun pengecasan dan mahalnya harga baterai juga disebut mempengaruhi. (fea)