Tips Otomotif

Saat Mudik, Pelan Tak Pasti Irit dan Kencang Tak Mesti Boros

fea, CNN Indonesia | Selasa, 28/05/2019 20:14 WIB
Saat Mudik, Pelan Tak Pasti Irit dan Kencang Tak Mesti Boros Sejumlah kendaraan melintasi Jalan Tol Tras Sumatera (JTTS) ruas Bakauheni-Terbanggi Besar di Desa Jati Agung, Lampung Selatan, Lampung, Minggu (26/5/2019). (Foto: ANTARA FOTO/Ardiansyah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tetap irit saat perjalanan jauh seperti mudik memerlukan beberapa pemahaman tertentu soal kendaraan. Salah satu yang mesti diketahui yaitu 'pelan bukan berarti irit dan kencang tidak jaminan boros'.

Pelan dan kencang merupakan hal yang relatif, tergantung mobil. Biar pemahamannya seragam, pelan diasumsikan tidak lebih dari 40 km per jam sedangkan kencang di atas 80 km per jam.

Menurut penjelasan Riecky Patrayudha, Service Dept. Head 4W, 2W & Marine Suzuki Indomobil Sales, keiritan bahan bakar tidak selalu dipengaruhi kecepatan tinggi. Dia memaparkan yang membentuk efisiensi adalah kombinasi torsi dan horsepower pada titik optimal.


Setiap mobil dikatakan Riecky punya kisaran torsi dan tenaga optimal pada putaran mesin tertentu. Misalnya pada Suzuki Ertiga, torsi sebesar 138 Nm berada pada 4.400 rpm sedangkan tenaganya 103,2 tenaga kuda pada 6.000 rpm.

"Misalnya di Ertiga kan kurang lebih 100 hp, itu kalau 160 km per jam kemampuannya cuma jadi 12 km per liter kalau lihat di MID (multi information display). Tapi kalau 100 km per jam itu bisa 16 - 18 km per liter," ujar Riecky, Selasa (28/5).

Saat berkendara, angka irit maksimal akan didapat ketika mesin membakar sedikit bensin namun mampu mempertahankan momentum laju kendaraan secara konstan.

Sering buka-tutup pedal gas, naik-turun kecepatan, dan banyak mengalami perlambatan seperti mengerem merupakan aktivitas yang melawan keiritan.

"Enggak semua irit itu pelan dan tidak semua kencang itu boros," kata Riecky.

Riecky menuturkan panduan mudah biar menjaga mobil tetap irit, yakni berusaha mengemudi dengan putaran mesin di bawah 3.000 rpm. Menurut dia saat berada di posisi gigi tertinggi dan tetap di bawah 3.000 rpm tingkat keiritan sudah optimal. (fea)