Apple Berencana Pindahkan Produksi iPhone di Luar China

evn, CNN Indonesia | Kamis, 13/06/2019 04:18 WIB
Apple Berencana Pindahkan Produksi iPhone di Luar China Ilustrasi pabrik iPhone. (Foto: REUTERS/Bobby Yip)
Jakarta, CNN Indonesia -- Apple mempertimbangkan rencana untuk mengalihkan produksi iPhone di luar China setelah tensi perang dagang dengan Amerika Serikat meningkat. Rencana ini ditempuh jika terjadi kemungkinan buruk atas perang dagang AS-China.

Salah seorang petinggi Hon Hai Precision atau lebih dikenal dengan nama Foxconn mengatakan pihaknya siap jika Apple memutuskan untuk mengalihkan pusat produksi iPhone dan iPad di luar China.

"25 persen kapasitas produksi kami berada di luar China dan kami akan membantu Apple menangapi kebutuhannya di pasar AS," ungkap Young Liu, salah satu petinggi Foxconn.


Padahal diketahui China menjadi roda penggerak bisnis Apple, lantaran sebagian besar iPhone dan iPad yang dipasarkan di seluruh dunia diproduksi di sana. Namun, ancaman Trump untuk menerapkan tarif baru sebesar US$300 miliar terhadap barang dari China membuat sejumlah perusahaan putar otak mencari solusi lain.

Sejauh ini, Liu mengatakan pihaknya belum mendapatkan instruksi dari Apple untuk memindahkan lini produksi dari China.

Analis bisnis Neil Mawston memperkirakan Foxconn butuh waktu satu hingga dua tahun untuk bisa memenuhi permintaan produk Apple. Imbasnya, pengirimn produk Apple akan mengalami penundaan di beberapa negara.

Liu mengatakan saat ini pihaknya tengah melakukan investasi di India untuk memenuhi permintaan produksi iPhone dan iPad.

"Kami memiliki kapasitas produksi yang cukup [di luar China] untuk memenuhi permintaan Apple," tegasnya seperti dilansir Blooomberg.

Foxconn sudah menggunakan satu pabriknya di India untuk memproduksi iPhone XR yang rencananya akan mulai tahap produksi massalh di sebuah pabrik di Chennai. Sementara itu pabrik di Wistron, Bangalore sudah digunakan untuk memproduksi iPhone seri lawas.

Sebelumnya Foxconn telah sepakat untuk merekrut 13 ribu pekerja untuk pabrik di Bangalore setelah mengantongi insentif US$4,5 miliar dari pemerintah. Hanya saja, perusahaan menuai kritik lantaran sejumlah masalah mulai dari upah pekerja yang terlalu rendah, pemecatan sepihak, hingga target yang kerap berubah. (evn)