"Ini di Asia-Pasifik ternyata yang paling banyak menyerang asalnya dari Amerika, kalau dari sisi traffic [server yang digunakan peretas] tapi bukan berarti penjahatnya ada di Amerika," kata Presiden Direktur Dimension Data Hendra Lesmana kepada awak media di Bluegrass & Grill, Jakarta, Selasa (17/6).
Banyaknya sumber daya berupa lembaga penyedia data center, jaringan internet yang kencang, ditambah kabel fiber optik yang memadai menjadi alasan di balik masifnya aksi serangan siber yang bersumber dari server di AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nomor dua tentu saja dari China, 14 persen serangan dari China. Bentuknya Brute-Force Attack jadi coba kata sandi dengan segala macam kombinasi misal 12345678," jelas Hendra.
"Menggunakan IoT misalnya sedang bangun gedung baru, otomatis pasang CCTV yang pakai kabel data. Aspek keamanan tidak diperhitungkan dengan benar, itu bisa dibajak," lanjut Hendra.
Lihat juga:Kaspersky Sebut WiFi Kantor Rentan Diretas |