Test Drive

Impresi Honda Genio: Kikuk untuk 'Rider' Tinggi Badan 184 cm

ray, CNN Indonesia | Kamis, 27/06/2019 11:29 WIB
Impresi Honda Genio: Kikuk untuk 'Rider' Tinggi Badan 184 cm Honda Genio dijual mulai Rp17,2 juta on-the-road. (Foto: Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Skutik Honda Genio yang konsepnya muncul perdana pada 2018 dengan julukan projek-G ini diklaim untuk menjembatani antara BeAT dan Scoopy.

Dari sisi desain, sepintas Genio mirip Scoopy yang memiliki DNA klasik retro, sementara dimensinya tampak lebih kecil. Ditawarkan dengan pilihan warna menarik untuk memikat konsumen anak muda.

Genio menggunakan rangka baru yang belum digunakan pada skutik Honda lain. AHM menyebutnya enhanced Smart Architecture Frame (eSAF). Struktur rangka baru ini yang bikin penasaran.


Sebagai pengendara

Duduk di atas jok Genio, rasanya tinggi badan 184 cm sepertinya saya agak kesulitan bergerak. Genio memiliki dimensi panjang 1.869 mm, lebar 692 mm, tinggi 1.061 mm, jarak sumbu rodanya 1.256 mm dan tinggi tempat duduk dari aspal 740 mm.

Jujur skutik ini membuat saya kikuk kendati masih ada jarak antara dengkul 'sayap' motor. Ini karena dimensi motor terlalu kecil bagi saya. Terlepas dari itu kualitas bahan tempat duduknya nyaman.

Honda Genio ditopang rangka baru enhanced Smart Architecture Frame (eSAF). Honda Genio ditopang rangka baru enhanced Smart Architecture Frame (eSAF). (Foto: Dok. Istimewa)
Impresi berkendara

Menyalakan mesin 110 cc cukup colok anak kunci dan putar ke kanan dan kemudian tekan tombol on. Boleh diakui mesinnya minim getaran dalam posisi idle. Klaim Honda mesin ini punya 'jeroan' berbeda dari BeAT, alias sudah mengalami beberapa penyesuaian.

Selongsong gas saya putar perlahan lantaran titik start area pengetesan dimulai dengan jalur bergelombang. Memasuki jalur yang dilengkapi speedtrap, suspensi Genio terbilang nyaman dan sedikit gejala mentul-mentul.

Setelah lajur itu kini saya dihadapkan dengan area zig zag kemudian jalan menikung. Motor tetap bergerak dengan kecepatan pelan.

Genio mengandalkan suspensi depan bertipe telescopic dan shockbreaker tunggal di sebelah kiri belakang. Meski cuma satu suspensi di belakang, mengenai handling-nya masih nyaman dan tidak ada gejala 'ngebuang' berkat frame yang menggunakan proses produksi press serta pengelasan laser.
Kolaborasi rangka baru dan suspensi-suspensinya terbilang sukses untuk meningkatkan stabilitas saat bermanuver ke kiri dan kanan, sehingga sepeda motor mudah dikendarai, dan terasa 'ringan'.

Belum lagi rangka barunya mampu terbukti bisa menempatkan bagasi 14 liter dan bahan bakar hingga 4,2 liter. Ini yang dibutuhkan anak muda untuk menyimpan barang bawaan mulai tas, gadget dan lainnya.

Yang menjadi masalah adalah posisi setang Genio yang sedikit mengganggu. Lengan saya selalu menyentuh dengkul dan paha sehingga proses zig zag terasa menyulitkan. Tapi 'rider' postur badan tinggi di bawah saya pasti lebih nyaman.

Mesin baru SOHC 110 cc cukup responsif dan tergolong cocok untuk perjalanan dalam kota yang stop and go. Saat diajak melibas trek sepanjang 100 meter, akselerasinya biasa-biasa saja, atau seperti mengendarai BeAT.

Tenaga maksimal mesin Genio di atas kertas mencapai 8,8 tenaga kuda pada 7.500 rpm dan torsi puncak di 9,3 Nm untuk 5.500 rpm.

Kesimpulan

Genio punya potensi membidik kawula muda dengan desain yang aduhai dan harga relatif terjangkau. Namun bila konsumen yang mencari motor Honda 'mainstream' tanpa menghiraukan penampilan bisa pilih BeAT yang sudah terbukti keandalannya.

Dibandingkan BeAt yang sama-sama menggendong mesin 110 cc, Genio unggul dari sisi desain dan fitur pendukung ketersediaan pengisian daya baterai gawai.

Namun ada catatan penting buat Genio, yaitu posisi soket yang berada di balik jok. Ini jelas mengkhawatirkan, meski diklaim aman oleh pabrikan. Mungkin ke depan AHM bisa memindahkan posisi soket di dekat setang, seperti yang bisa kita temui di Scoopy dan PCX. (ryh/mik)