BMKG Jelaskan Pengaruh Kemarau dan Polusi Udara di Jakarta

CNN Indonesia | Kamis, 04/07/2019 09:05 WIB
BMKG Jelaskan Pengaruh Kemarau dan Polusi Udara di Jakarta Ilustrasi (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan sejumlah faktor terkait tingginya konsentrasi polutan di Jakarta, salah satunya faktor musim kemarau.

Sebab, saat memasuki musim kemarau, frekuensi turunnya hujan akan berkurang.

"Memang ciri dari polutan udara memang seperti itu [musim kemarau], jadi dia akan melebur istilahnya rainwash, ketika ada hujan dia membersihkan polutan-polutan. Artinya, kalau musim kemarau kan hujannya sudah berkurang otomatis," kata Kasubid Informasi Pencemaran Udara BMKG Suradi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (3/7).


Menurut Suradi, faktor alam bukan satu-satunya penyebab polusi udara namun faktor manusia pun juga memengaruhi misal dari sektor industri.

Namun, secara umum menurunnya curah hujan akibat musim kemarau merupakan penyebab utama.

"Secara umum, memang benar [musim kemarau] jadi ketika curah hujan lama tidak turun maka otomatis konsentrasi itu [polutan] terakumulasi," tutur Suradi.

Untuk mengukur polusi udara, BMKG menggunakan alat bernama Ozone Alayzer. Suradi menyebut ada 26 unit yang telah disebar di sejumlah titik di Indonesia namun khusus di Jakarta, hanya terdapat di daerah Kemayoran.

"Kalau BMKG pakai alat Ozone Analyzer untuk memantau polutan selama 24 jam. Jadi sistem kerjanya ada pompa, lalu menarik debu-debu dari konsentrasinya dan ditembakan dengan sebuah sinar. Sementara Jakarta masih di Kemayoran, di kantor pusat BMKG," pungkasnya.

Andono juga menyebut banyaknya polusi yang teradi di Jakarta akibat sejumlah proyek yang masih berjalan.

Menyoal indeks standar pencemar udara (ISPU) udara di Jakarta saat ini, data BMKG melalui situs Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan kualitas udara di 5 wilayah di Jakarta kategori sedang, dengan rincian: https://iku.menlhk.go.id/
BMKG Jelaskan Pengaruh Kemarau dan Polusi Udara di JakartaPemerintah Thailand sempat menguji drone untuk mengurangi polusi udara di negara itu. (REUTERS/Athit Perawongmetha)

1. Jakarta Timur: ISPU sebesar 81 mikrogram/m3 berdasarkan partikulat 10 (PM 10) kategori sedang.
2. Jakarta Pusat: ISPU sebesar 59 mikrogram/m3 berdasarkan partikulat 10 (PM 10) kategori sedang.
3. Jakarta Utara: ISPU sebesar 72 mikrogram/m3 berdasarkan partikulat 10 (PM 10) kategori sedang.
4. Jakarta Selatan: ISPU sebesar 59 mikrogram/m3 berdasarkan partikulat 10 (PM 10) kategori sedang.
5. Jakarta Barat: ISPU sebesar 56 mikrogram/m3 berdasarkan partikulat 10 (PM 10) kategori sedang.

Data di atas dihimpun pada Rabu (3/7) pukul 15.00 WIB.

Menurut laman resmi BMKG, indeks standar pencemar udara (ISPU) terbagi menjadi lima kategori:
- Baik (0-50 mikrogram/m3),
- Sedang (50-150 mikrogram/m3),
- Tidak sehat (150-250 mikrogram/m3),
- Sangat tidak sehat (250-350 mikrogram/m3),
- Berbahaya (>350 mikrogram/m3).

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menanggapi isu udara buruk di Ibu Kota dengan menjelaskan kondisi cuaca Indonesia yang mulai memasuki musim kering. Menurut Anies, musim kering turut memberi dampak pada kualitas udara di Jakarta, seiring bertambahnya volume kendaraan. (din/eks)


BACA JUGA