Instagram Rilis Dua Fitur Lawan Perundungan Siber

CNN Indonesia | Selasa, 09/07/2019 13:25 WIB
Instagram Rilis Dua Fitur Lawan Perundungan Siber Ilustrasi (CNN Indonesia/Artho Viando)
Jakarta, CNN Indonesia -- Instagram baru saja meluncurkan dua fitur untuk melawan perundungan siber (cyber bullying). Dua fitur ini dirancang berdasarkan pemahaman tentang praktek perundungan siber yang biasa dilakukan dan cara korban merespon praktek perundungan.

Fitur pertama adalah notifikasi atau peringatan kepada pengguna saat akan memposting komentar yang bersifat ofensif.

Peringatan intervensif ini disebut Instagram memberikan kesempatan bagi pengguna untuk mempertimbangkan kembali postingan mereka. Fitur ini membuat pengguna bisa mencegah penerima postingan merasa tersakiti karena unggahan pengguna.


"Sejak uji coba fitur, Instagram mengatakan menemukan bahwa fitur ini mendorong sebagian orang mengurungkan komentar ofensif. Bahkan pengguna cenderung dan membagikan hal yang sifatnya lebih baik setelah mereka melakukan refleksi diri," kata Head of Instagram, Adam Mosseri dalam keterangan resmi kepada CNNIndonesia.com, Selasa (9/7).

Fitur kedua dinamakan Pembatasan (restrict). Mosseri mengatakan fitur ini bisa melindungi akun pengguna dari interaksi yang tidak diinginkan. Instagram dalam waktu yang dekat akan memulai uji coba fitur Pembatasan.

Mosseri mengatakan apabila pengguna menggunakan fitur ini ke seseorang, ia tidak akan mengetahui bahwa ia telah dibatasi. Setelah pengguna membatasi seseorang, ketika orang tersebut meninggalkan komentar di postingan pengguna, maka komentar tersebut hanya dapat dilihat oleh orang tersebut.

Pengguna dapat memilih untuk memperlihatkan komentar orang yang dibatasi kepada orang lain dengan cara menyetujui komentar mereka. Orang yang dibatasi tidak dapat melihat apakah pengguna sedang aktif di Instagram atau telah membaca pesan mereka.

"Instagram ingin membuat fitur yang memungkinkan pengguna mengontrol pengalaman Instagram mereka, tanpa memberi tahu orang yang mungkin menargetkan mereka sebagai target perundungan," kata Mosseri.

Fitur ini diluncurkan dari para pengguna muda yang cenderung enggan untuk memblokir, unfollow, atau melaporkan pelaku perundungan karena dapat memperburuk masalah. Khususnya jika mereka berinteraksi dengan pelaku di kehidupan nyata. (jnp/eks)