Peneliti geografi dan tata ruang BIG, Yosef Prihanto mengatakan biaya pembuatan memang ditentukan oleh berbagai hal. Di antaranya adalah metode, peralatan, skala peta untuk merinci informasi di dalam peta.
Melihat rencana peta rendaman tsunami tersebut, Yosef bisa memaklumi dana Rp500 juta untuk membuat peta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yosef mengatakan komponen paling mahal dalam pembuatan peta adalah pengadaan data dan biaya survei untuk melakukan validasi. Validasi menurut Yosef sangat dibutuhkan untuk sebuah peta permodelan.
Selain itu ada juga biaya survei untuk pengukuran lapangan atau validasi dan komponen biaya produksi jika hasil akhirnya nanti berupa peta cetak atau peta digital yang lengkap (full layout).
Sebelumnya Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Eko Yulianto mengatakan dirinya bersama tim peneliti di Pusat Penelitian Geoteknologi tengah menyiapkan peta tersebut dalam skala detail 1:10.000.
Peta tersebut memiliki skala 1:10.000 dan akan lebih detail menggambarkan rendaman tsunami. Ia mengatakan peta topografi yang paling detail di Indonesia skalanya baru 1:25.000. Peta akan mengombinasikan peta batimetri, peta topografi, dan basis parameter sumber gempa.
"Jadi kita model kan tsunami dengan basis parameter sumber gempa. Kalau gempa 9 skala richter maka akan mengangkat ke atas volume air laut, seberapa banyak yang dikirim kan ke daratan, kemudian butuh peta batimetri, dan peta topografi berskala besar," kata Eko. (jnp/eks)