Tangkuban Parahu Freatik, Kenali Tiga Fase Letusan Gunung Api

Tim CNN Indonesia, CNN Indonesia | Jumat, 02/08/2019 18:19 WIB
Tangkuban Parahu Freatik, Kenali Tiga Fase Letusan Gunung Api Gunung Tangkuban Parahu (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan saat ini Gunung Tangkuban Parahu baru mengeluarkan letusan freatik. Menurut Kepala PVMBG Kasbani, Tangkuban Parahu belum menunjukkan tanda-tanda letusan magmatik.

"Belum, sampai sekarang belum. Indikasinya belum (magmatik) sampai sekarng, masih freatik saja," tuturnya saat dihubungi CNNIndonesia.com via sambungan telepon, Jumat petang (2/8).

Menurutnya ada tiga indikasi yang bisa dijadikan landasan untuk menentukan erupsi gunung berapi itu telah berubah menjadi letusan magmatik. Tiga tanda itu dicatat dari sisi kegempaan, deformasi atau perubahan permukaan tubuh gunung api, dan ada material yang dikeluarkan dari kawah.



Tiga Fase Erupsi Gunung Berapi


Terdapat tiga jenis erupsi berdasarkan pergerakan magma dari dalam ke permukaan bumi. Tiga jenis erupsi itu adalah freatik, freatomagmatik dan magmatik.

Letusan gunung berapi terjadi akibat dapur magma yang mengalirkan magma segar yang telah bertekanan cukup tinggi (oleh sebab apapun) ke atas. Pergerakan ini menciptakan retakan-retakan pada bebatuan yang menyumbat saluran.

1. Erupsi Freatik

Terjadi ketika magma segar mulai naik dari dapur magma ke tubuh gunung. Pada fase ini magma berinteraksi dengan air bawah tanah dan menyebabkan penguapan.

Ketika intensitas uap makin tinggi dan memiliki tekanan yang cukup tinggi, uap mampu membobol bebatuan pembekuan magma tua yang menyumbat kawah.

Oleh karena itu, material vulkanik yang disemburkan oleh erupsi freatik lebih didominasi uap air bercampur gas-gas vulkanik lainnya. Material vulkaniknya memiliki suhu kurang dari 200º C dan saat tiba di kaki gunung sudah setara suhu lingkungan. Erupsi freatik sama sekali tidak memuntahkan magma segar. Intensitas erupsinya juga umumnya kecil.

2. Erupsi Freatomagmatik

Erupsi ini biasanya terjadi setelah erupsi freatik berlalu. Letusan ini terjadi ketika magma segar naik ke tubuh gunung namun belum mencapai lubang letusan. Magma mulai bersentuhan langsung dengan air bawah tanah.

Persentuhan dengan air yang lebih dingin membuat permukaan magma segar sontak mendingin cepat, membentuk butiran-butiran pasir hingga kerikil dengan komposisi khas. Sebaliknya air bawah tanah langsung menguap dengan frekuensi dan intensitas yang lebih tinggi.

Selain menyemburkan uap air dan gas-gas vulkanik lainnya, erupsi freatomagmatik pun menyemburkan debu, pasir hingga kerikil. Namun kali ini mayoritas berasal dari magma segar yang membeku cepat. Intensitas erupsinya akan lebih besar dari erupsi freatik dan material vulkanik yang dimuntahkannya pun lebih panas.

3. Erupsi Magmatik

Ini adalah puncak erupsi, sebab magma segar sudah keluar dari lubang letusan. Erupsi magmatik secara umum terbagi menjadi dua: eksplosif (ledakan) dan efusif (leleran). Erupsi magmatik eksplosif umumnya melibatkan magma segar yang bersifat asam karena banyak mengandung silikat (SiO2).

Sementara pada erupsi magmatik yang efusif, magma segar yang keluar lebih bersifat basa (basaltik). Magmanya lebih encer dan kurang mengandung gas.


[Gambas:Video CNN] (eks)