Faktor Alam Jarang Sebabkan Karhutla

CNN Indonesia | Minggu, 11/08/2019 20:17 WIB
Faktor Alam Jarang Sebabkan Karhutla Upaya pemadaman api di Gunung Ciremai (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat mengatakan faktor alam jarang menyebabkan peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurut lembaga ini, penyebab kebakaran hutan yang kerap terjadi akibat faktor manusia.

Menurut Direktur Eksekutif Walhi Jawa Barat, Meiki Paendong kesalahan manusia ini menyebabkan api membesar hingga mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Yang paling sering memungkinkan adalah faktor aktivitas manusia. Misalnya meninggalkan puntung rokok menyala, meninggalkan benda-benda pemicu timbulnya api seperti botol kaca. Meninggalkan bara bekas perapian yang masih menyala. Dan atau bahkan sengaja dibakar dengan maksud tertentu," katanya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (9/8).


Ia mengatakan penyebab karhutla akibat faktor alam sangat jarang terjadi dibandingkan faktor manusia. Meiki mengatakan saat ini penyebab kebakaran sedang diselidiki oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (BBKSDA) Jabar, dan polisi.

"Penyebab kebakaran hutan bisa karena faktor alam dan manusia. Kalau faktor alam biasanya dipicu oleh sambaran petir. Tapi itu hampir sangat jarang terjadi," katanya.

Meski demikian, ia tak menampik kalau musim kemarau menjadi pendukung terjadinya kebakaran hutan di Indonesia. Hal ini diungkap terkait dengan dugaan-dugaan faktor penyebab kebakaran hutan di Gunung Ciremai pada 7 Agustus 2019. Kebakaran itu, menurutnya diperparah dengan keberadaan vegetasi tumbuhan di Gunung Ciremai yang rentan terbakar di musim kemarau.

"Secara morfologi, Gunung Ciremai ditumbuhi beragam tumbuhan. Beberapa diantaranya habitat tumbuhan perdu dan rumput serta semak belukar ini rentan sekali terbakar kalau musim kemarau," katanya.

Menurut situs Taman Nasional Gunung Ciremai, lokasi kebakaran hutan berada pada ketinggian 2.600 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Posisi tersebut berada sekitar 20 meter di atas pos Sanghyang Ropoh. Pos Simpang Apuy-Palutungan dilaporkan telah terlahap api pada sisi kanan dan kiri jalur pendakian.

Lokasi titik api sulit dijangkau oleh peralatan pemadam seperti "jet shooter" dan mesin pompa air karena berada pada medan terjal, curam, dan tak tersedia sumber air.

Oleh karena itu,petugas gabungan menggunakan peralatan tangan seperti golok, cangkul, dan gepyok untuk membuat sekat bakar dan pemadaman langsung. (jnp/eks)