Tren Teknologi

Tak Semua Pemindai Sidik Jari Bawah Layar Serupa

CNN Indonesia | Sabtu, 10/08/2019 11:15 WIB
Tak Semua Pemindai Sidik Jari Bawah Layar Serupa Ilustrasi. (Foto: Istockphoto/Milkos)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sensor pemindai sidik jari bawah layar tengah populer digunakan di smartphone anyar. Pemindai ini menggantikan pemindai sidik jari kapasitif yang biasa ditempatkan pada sebuah tombol fisik di bodi ponsel.

Teknologi ini telah disematkan pada Vivo V11 Pro pada 2018. Teknologi ini lantas disematkan juga pada smartphone lain seperti Samsung Galaxy S10, Oppo, dan Xiaomi.

Walaupun sama-sama dibenamkan di bawah layar, namun teknologi ini sebenarnya punya dua teknologi berbeda. Pemindai sidik jari bawah layar ada yang menggunakan pemindai optik dan pemindai ultrasonik. Berikut beda keduanya.



Pemindai Optik

Jenis sensor ini menggunakan kamera kecil di bawah layar yang berfungsi untuk menangkap data sidik jari. Cahaya yang keluar saat meletakkan jari di layar berfungsi menerangi sidik jari. Kemudian sensor akan memindai sidik jari yang telah ditangkap kamera. Mudahnya, gambar yang tertangkap akan dicocokkan dengan data sidik jari yang telah disimpan.

Produk-produk seperti Oppo, Xiaomi (Mi9), One Plus (6T), Samsung (A50), dan Huawei adalah smartphone yang menggunakan pemindai optik sebagai alat pemindai sidik jari. Seluruh smartphone tersebut memiliki satu produsen alat yang sama yakni Goodix.

Sensor tersebut diletakkan pada 1,6mm dibawah layar. Sangat tipis sehingga tidak mempengaruhi ketebalan smartphone.

Pemindai Ultrasonik

Tak Semua Pemindai Sidik Jari Bawah Layar SerupaPemindai bawah layar ultrasonik masih  bisa memindai sidik jari meski kondisi tangan basah (CNN Indonesia/Eka Santhika)

Pemindai lainnya yang digunakan Galaxy S10 adalah ultrasonik. Berbeda dengan pemindai optik yang masih membutuhkan bantuan cahaya, metode ini hanya perlu membaca gelombang ultrasonik yang dihasilkan saat jari menyentuh layar.

Pemindai sidik jari dengan ultrasonik diyakini punya tingkat sekuritas yang lebih tinggi sebab dapat memetakan sidik jari secara 3D. Alat pemindai pun tidak mungkin terkecoh apabila ada jari lain yang mencoba membuka, menurut The Next Web.

Dari segi ketahanan, ultrasonik bekerja lebih baik dibanding metode optik walaupun kondisi jari kotor atau basah. Selain itu juga lebih cepat dibandingkan dengan Face Unlock, yakni hanya sekitar 0.7 detik.

Menurut Guiding Tech, ultrasonik hanya mendukung platform Snapdragon 855. Harganya pun tidak semurah optik. Sejauh ini baru Samsung S10 dan S10+ yang menggunakan metode ultrasonik dengan Qualcomm sebagai produsen.

Pemindai kapasitif

Cara kerja kedua pemindai sidik jari bawah layar ini sangat berbeda dengan pemindai sidik jari kapasitif tradisional. Ini adalah jenis pemindai sidik jari paling umum di smartphone saat ini.
Berbeda dengan pemindai di layar, pemindai kapasitif menggunakan rangkaian kapasitor kecil untuk mengumpulkan data sidik jari, seperti dilansir Android Authority.

Kapasitor ini bisa menyimpan muatan listrik, menghubungkan ke pelat konduktif di permukaan pemindai. Cara ini digunakan untuk melacak detil dari sidik jari.

Jejak sidik jari akan terlacak ketika bersentuhan dengan pelat. Sementara celah udara pada lekukan sidik jari tak akan bereaksi dengan muatan listrik di kapasitor. Dengan cara ini, kapasitor bisa mengenali bentuk sidik jari. (ndn/eks)