Korea Selatan sebagai negara tetangga terdekat diduga menerima setidaknya 10 serangan siber dari Korut. Menyusul India di dengan tiga serangan, serta Bangladesh dan Chile dengan masing-masing dua serangan.
Aksi serangan siber kali ini diduga sebagai upaya untuk mengumpulkan dana untuk membeli senjata pemusnah kapal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Darurat UU Ketahanan dan Keamanan Siber |
Korut diduga menggunakan tiga cara untuk mengumpulkan uang secara ilegal. Pertama, melakukan serangan melalui Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication atau sistem SWIFT untuk mentransfer uang antar bank.
Pakar keamanan siber Chile mengatakan peretas Korut memanfaatkan LinkedIn untuk merekrut karyawan jaringan antar bank, Chili Redbanc saat menghubungkan semua bank melalui sistem ATM di negara tersebut.
selain itu, Korut juga diduga mencuri dana melalui uang kripto sebanyak 5.000 transaksi secara terpisah pada 2018. Transaksi ini kemudian dialihkan ke beberapa negara sebelum dikonversi ke mata uang Won Korut.
Serangan terakhir terjadi pada Maret lalu yang menyebabkan kerugian hingga US$20 juta. Pakar keamanan siber AS juga tengah menyelidiki cara baru Korut untuk meraup uang ilegal melalui cryptojacking.
Cryptojacking merupakan metode yang memungkinkan penggunaan malware untuk menginfeksi komputer dalam menghasilkan uang kripto. Salah satu malware yang digunakan untuk menambang uang kripto yaitu Monero dan ditransfer ke server yang berlokasi di Universitas Kim II Sung, Pyongyang, Korea Utara.
[Gambas:Video CNN] (din/evn)