Ketua LAPAN Thomas Djamaluddin menyebut dirinya pernah mengajak komunitas penganut Bumi datar datang mengunjungi kantor LAPAN untuk membahas soal bentuk Bumi.
"Jadi saya sempat menanggapi orang yang menganggap bahwa Bumi itu datar, termasuk juga diundang ke LAPAN karena mereka di media sosialnya menyatakan menantang NASA untuk berdebat. Saya waktu itu ya tidak usah jauh-jauh ke NASA, kalau mau berdebat ya dengan LAPAN saja," kata Thomas kepada CNNIndonesia.com di kantor LAPAN, Jakarta, Senin (19/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maka ketika ada individu atau sekelompok orang yang tidak mempercayai bentuk Bumi itu bulat, mereka dianggap mengingkari apa yang mereka gunakan. Misal, menggunakan ponsel untuk kegiatan browsing internet.
"Broadcasting juga mereka bisa nonton tv, sekarang tidak ada tv yang tidak menggunakan satelit. Semua tv menggunakan satelit," ucap Thomas.
"Internet sekarang ini bisa digunakan untuk mencari ilmu tapi bisa juga digunakan untuk membohongi. Oleh karenanya, publik harus dilatih juga mengambil mutiara diantara sampah-sampah yang bertebaran di internet," jelasnya.
Isu Konspirasi NASA
Menyoal konspirasi NASA soal pendaratan manusia ke permukaan Bulan atau lebih dikenal dengan misi Apollo, LAPAN menilai isu ini sangat mudah dibantah.
Pasalnya, tahun 1960-an merupakan masa perang dingin antara Uni Soviet (sekarang Rusia) dan Amerika. Sebab saat itu Rusia merupakan negara pertama di dunia yang meluncurkan satelit dan kosmonaut pertama ke luar angkasa.
Jika pendaratan Neil Armstrong dan Buzz Aldrin ke permukaan Bulan disebut sebagai buatan Hollywood, maka Rusia akan langsung membantah dan NASA juga akan menjadi bulan-bulanan internasional.
"Jadi itu, [pendaratan manusia ke Bulan] tidak mungkin rekayasa. Tidak mungkin sekian banyak ilmuwan mau dibohongi oleh NASA karena harus dibuktikan secara ilmiah bagaimana sih proses atau setidaknya meluncurkan wahana Apollo sampai dengan Bulan," jelas Thomas. (din/age)