Kemenkominfo Diprotes soal Cap Hoaks Kasus Asrama Papua

CNN Indonesia | Selasa, 20/08/2019 14:51 WIB
Kemenkominfo Diprotes soal Cap Hoaks Kasus Asrama Papua ilustrasi. (Foto: REUTERS/Thomas White)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengacara HAM Veronica Koman memprotes Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) setelah salah satu cuitannya dicap sebagai hoaks berkategori disinformasi.

Cuitan tersebut berisi dugaan penangkapan dua orang mahasiswa yang mengantarkan makanan untuk penghuni asrama mahasiswa Papua di Surabaya yang dikepung oleh Polres Surabaya.

"Twit saya tidak menyebutkan bahwa 2 pengantar makan tsb diculik, namun ditangkap. Saya bicara berdasarkan definisi KUHAP. Bahkan 2 orang tsb menandatangani BAP, apa itu namanya bukan ditangkap," kata Veronica dalam sebuah cuitan, Senin (19/8).




Cuitan tersebut disukai sebanyak 292 kali dan di-retweet sebanyak 268 kali. Veronica menekankan dalam cuitan yang dicap sebagai hoaks, ia menyebutkan 'penangkapan', bukan 'penculikan'.

Masalahnya, Kemenkominfo memakai cuitan Veronica untuk membantah hoaks soal 'penculikan.

Cuitan klarifikasi itu telah memantik komentar-komentar negatif kepada Kemenkominfo.




Veronica sendiri meminta Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara untuk mengklarifikasi dan meminta maaf atas tuduhan kepada dirinya yang dianggap telah menyebarkan hoaks.

"Saya tidak menggunakan 'penculikan' untuk menggambarkan penangkapan polisi atas dua orang Samaria yang baik membawa makanan dan air untuk mengepung mahasiswa Papua Barat. Saya berpegang pada ketentuan hukum," lata Veronica.

Presidium Mafindo Anita Wahid juga turut berbuka suara. Dalam cuitannya, Anita mengakui telah mengonfirmasi dengan Kemenkominfo.

"No worries mbak. I just checked with kominfo. Mrk bilang kata penculikan munculnya di komen2 org di twitmu, itu sebabnya jd twitmu yg dipasang. Understandable, but unacceptable I think. Tp mudah2an sedikit meredakan kemarahanmu, mbak," ujar Anita.

Anita meminta agar Kemenkominfo menarik gambar yang berisi cuitan Veronica yang telah dicap hoaks.



Sebelumnya, Kemenkominfo mengidentifikasi dua hoaks yang dianggap semakin memanaskan aksi massa. Hoaks pertama berjudul 'Foto Mahasiswa Papua Tewas Dipukul Aparat di Surabaya.'

Hoaks kedua berjudul 'Polres Surabaya menculik Dua Orang Pengantar Makanan untuk Mahasiswa Papua'. Hoaks berjenis disinformasi ini berisi kabar adanya dugaan penculikan dua orang mahasiswa karena mengantarkan makanan untuk penghuni asrama mahasiswa Papua yang dikepung yang oleh Polres Surabaya.

"Kasat Intel Polrestabes Surabaya AKBP Asmoro membantah terjadinya penculikan. Ia menjelaskan, kepolisian hanya mewawancarai dan memeriksa kedua orang tersebut," kata Pelaksana Tugas Kepala Biro Humas Kemenkominfo, Ferdinandus Setu.

CNNIndonesia.com menghubungi Ferdinandus terkait dengan pembaharuan informasi mengenai masalah ini, namun belum direspons.

Diketahui, kisruh asrama Papua diduga turut memicu aksi di sejumlah tempat di antaranya adalah Manokwari, Papua Barat. Di sana, massa diduga membakar gedung DPRD dan sejumlah kendaraan namun belum diketahui identitas kelompok tersebut.

Terkait dengan hal itu, Kemenkominfo melakukan perlambatan (throttling) akses jaringan internet di beberapa wilayah Papua saat terjadi aksi massa. (jnp/asa)