Didit mengatakan dua masalah tersebut muncul di tengah adopsi IoT dan urgensi peralihan dari sistem analog ke pemanfaatan teknologi.
"Tantangan penerapan IoT di Indonesia karena selama ini masih pakai sistem analog. Orang Indonesia harus mencoba dan melihat simulasi, baru bisa menilai teknologi ini benar bisa membantu atau enggak," terang Didit ditemui usai acara 'The Next Gen Enterprise & IoT Solution' di Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (21/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sejak awal 2019 kami [Acer] memang menawarkan solusi IoT mulai dari peranti keras sampai peranti lunak dan dashboard bisa diakses oleh kustomer. Mengingat regulasi IoT baru disahkan, jadi kami belum bisa mengkomersialkan dan harus menunggu sertifikasi lolos uji dari Postel," imbuhnya.
Didit menjelaskan solusi IoT yang ditawarkan Acer mengusung teknologi Low Range (LoRa) yang sudah mendapat restu dari Kemenkominfo. Menurutnya LoRa bisa mengatasi masalah adopsi IoT di area yang belum terjangkau sinyal operator seluler.
"Bicara LoRa, ini akan menjangkau area yang belum diselimuti GSM hingga ke sensornya. Tapi untuk akses ke back-end tetap akan ada kartu SIM. Jadi LoRa itu bukan untuk menggantikan yang ada, tapi justru melengkapi," jelas Didit.
LoRa sendiri merupakan teknik modulasi spektrum yang berasal dari teknologi chirp spread spectrum (CSS). Aplikasi IoT yang mengadopsi teknologi LoRa disebut bisa menjadi solusi untuk konsumsi daya lebih rendah dan transmisi data yang aman.
[Gambas:Video CNN] (evn)