Tagar #BanserUntukNegeri dan #BubarkanBanser kini menduduki dua peringkat teratas di Twitter. Sementara dalam trending topic dunia, tagar #BubarkanBanser berada di posisi kelima.
Topik itu sendiri tak bisa lepas dari tujuh tuntutan yang dibacakan masyarakat Sorong, Papua Barat pada Rabu lalu (21/8). Salah satu poin tuntutan adalah meminta pemerintah membubarkan Banser.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Gambas:Twitter]
Ada juga yang memberikan semangat untuk anggota Banser di Papua. Ia adalah @Awang_Azhari yang mencuitkan "#BanserUntukNegeri tetap semangat sahabat Banser di Papua".
Di sisi lain, tak sedikit pula netizen yang kontra dengan keberadaan Banser. Salah satunya pemilik akun @abizia_.
Ia menyatakan, "Sahabat oposisi, siapa yang setuju #BubarkanBanser agar saudara Papua kita tetap dalam pelukan NKRI?"
Selain itu, akun @Kolak_VI juga mengajak netizen lainnya untuk mencuitkan tagar #BubarkanBanser agar tetap jadi topik hangat di dunia.
"Mengatasnamakan seluruh pejuang oposisi, mengajak semua barisan untuk mengangkat tagar #BubarkanBanser #BubarkanBanser menuju titik trending dunia. Hormat saya untuk para pejuang, bersatulah demi satu tujuan,".
[Gambas:Twitter]
Diketahui tagar ini muncul setelah massa di Papua disebut-sebut meminta pemerintah membubarkan Banser. Hal ini berkaitan dengan insiden yang terjadi di Papua beberapa waktu lalu.
Kondisi di sejumlah kota di Papua dan Papua Barat sempat memanas karena insiden pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya pekan lalu. Sejumlah fasilitas publik di Manokwari, Sorong, hingga Fakfak dibakar.
Calon Anggota DPD terpilih dari Papua, Yorrys Raweyai mengaku mendengar masyarakat Sorong menyuarakan tujuh tuntutan saat dirinya berkunjung ke sana. Salah satu tuntutannya adalah meminta pemerintah membubarkan Banser. Itu termaktub dalam poin ketiga.
"Pemerintah harus segera bubarkan ormas Banser dari negara Republik Indonesia," mengutip bunyi tuntutan masyarakat Sorong, Papua Barat.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan juga sudah angkat suara. Dia mengatakan gejolak yang terjadi di Papua dan Papua Barat wajar karena merupakan bagian dari ekspresi masyarakat.
Lihat juga:Pace Mace di Papua dan Kabut Moral Jokowi |
Akses internet di Papua pun sempat dibatasi oleh pemerintah setelah kerusuhan. Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara menyatakan banyak berita bohong terkait korban masyarakat Papua yang muncul di media sosial.
"Kalau dilihat memang di dunia nyata lebih kondusif. Di jalan tidak ada yang demo. Tapi di dunia maya malah banyak hoaks, provokasi, dan mengadu domba," pungkas Rudiantara.
[Gambas:Video CNN] (bmw/aud)