Koordinator pengelola BOS, Imam Muslimin menjelaskan memang pembangunan kota baru jauh dari hutan yang merupakan orangutan. Akan tetapi, lambat laun pembangunan ibu kota akan merembet ke kota sekitar.
"Lokasinya pembangunan ibu kota jauh dari habitat orangutan. Cuma lambat laun ya bisa (mengancam) , karena orang utan kan selalu berpindah-pindah tempat, siklusnya memang puluhan tahun. Kalau mengancam pasti ada," kata Imam saat ditemui di Samboja Lestari, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Kamis (29/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Samboja Lestari adalah tempat penangkaran dan salah satu pusat konservasi konservasi di Kalimantan Timur. Kawasan konservasi di Desa Samboja punya luas sekitar dua ribu hektar. Samboja Lestari dikelola oleh yayasan BOS.
Orang Utan dilepaskan di Hutan Kehje Sewen, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Hutan ini telah dibeli oleh BOS dengan cara pembelian kredit kepada pemerintah
"Lokasi rilis kami di Kehje Sewen, ada 86 ribu hektare. Sudah jadi milik kami, dicicil sejak 12 tahun lalu," ujar Imam.
Pembangunan juga harus dilakukan di hutan produksi, bukan di hutan lindung. Imam mengakui pembangunan ibu kota bisa berdampak positif bagi perekonomian daerah.
"Kalimantan sebagai salah satu pulau terbesar di Indonesia, lahannya masih luas juga. Selama tidak merusak alami satwa ya tidak apa," katanya.
Berdasarkan data Forum Orangutan Indonesia (Forina), habitat orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) diperkirakan tinggal 57 ribu ekor, sementara di Sumatera (Pongo abelii) hanya sekitar 14 ribu ekor.
[Gambas:Video CNN] (jnp/evn)