Indonesia Electric Motor Show

Penjelasan Luhut soal Pabrik Baterai Kendaraan Listrik di RI

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Rabu, 04/09/2019 14:14 WIB
Penjelasan Luhut soal Pabrik Baterai Kendaraan Listrik di RI Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Menko Maritim) Luhut Binsar Panjaitan. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Menko Maritim) Luhut Binsar Panjaitan menuturkan pengembangan kawasan industri baterai kendaraan listrik di Indonesia bukan ditujukan hanya untuk pihak tertentu.

Menurut Luhut pabrik baterai kendaraan listrik di Tanah Air untuk mendukung industri otomotif nasional. Fasilitas pabrik produksi baterai lithium-ion tersebut dibangun untuk semua pelaku otomotif dalam menyongsong era kendaraan listrik di Indonesia.

"Jadi ini bukan lagi China China lagi, tidak ada urusan dengan China. Semua yang punya kepentingan sama," kata Luhut dalam kata sambutan pembukaan Indonesia Electric Motor Show 2019 di gedung Balai Kartini, Jakarta, Rabu (4/9).


Pemerintah Indonesia telah meresmikan kawasan industri baterai listrik di Morowali beberapa waktu lalu. Salah satunya PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) yang fokus menghasilkan baterai lithium-ion. IWIP adalah perusahaan patungan dari tiga investor Tiongkok yaitu Tsingshan, Huayou, dan Zhenshi.

Pada kawasan industri itu menurut Luhut semua pihak boleh menanamkam investasi mendirikan pabriknya.

"Nanti itu segera diikuti dengan pembangunan lithium baterai. Ini melibatkan CATL, Panasonic, VW, Mercedes-Benz. Karena mereka semua punya kepentingan di situ. Semua ingin mencari efisiensi untuk pengurangan tenaga fosil (bahan bakar minya/BBM)," ucapnya.

Luhut menuturkan kendaraan listrik sangat penting untuk kebutuhan moda transportasi di Indonesia di masa depan. Sejumlah negara maju, seperti Amerika Serikat, negara-negara di Eropa dan China memandangkan kendaraan bertenaga listrik sudah menjadi kebutuhan.

Kendaraan tanpa emisi tersebut, dijelaskan Luhut sangat penting terutama digunakan di kota-kota besar seperti DKI Jakarta yang 75 persen udaranya sudah tercemar yang 60 persennya disebabkan oleh kendaraan dan angkutan umum.

"Jadi jika dalam tiga tahun ke depan kita bisa gantikan atau 5 tahun ke depan maka Jakarta akan lebih tenang," tutup Luhut.

[Gambas:Video CNN] (ryh/mik)