Akun CEO Twitter Diretas, Fitur Unggah Cuitan Via SMS Disetop

Tim CNN Indonesia, CNN Indonesia | Jumat, 06/09/2019 07:21 WIB
Twitter hentikan sementara fitur unggah cuitan melalui pesan singkat setelah kejadian peretasan akun bos mereka, Jack Dorsey. Foto: AFP PHOTO / JONATHAN ALCORN
Jakarta, CNN Indonesia -- Twitter menyatakan telah menghentikan sementara fitur mengunggah cuitan melalui pesan singkat (SMS) setelah kejadian peretasan akun bos eksekutif mereka, Jack Dorsey.

Cuitan-cuitan akun @jack itu mengandung kata-kata rasis dan menyatakan keberadaan sebuah bom dan tak lama pihak Twitter menghapus cuitan itu.

"Kami sementara menonaktifkan kemampuan untuk mencuitkan melalui SMS atau pesan teks untuk melindungi akun Anda," kata Juru Bicara Twitter melalui akun @TwitterSupport, Kamis (5/9).


"Kami mengambil langkah ini karena kerentanan yang perlu ditangani oleh operator seluler dan ketergantungan kami pada nomor telepon yang ditautkan untuk keperluan otentikasi."
Dilansir The Verge, fitur mengunggah cuitan melalui layanan pesan singkat ini sempat menjadi andalan Twitter saat mulai mengembangkan layanan. Kendati demikian, perusahaan menyadari bahwa saat ini pengguna lebih nyaman menggunakan aplikasi dibanding cara konvensional.

Sebelumnya, akun bos eksekutif Twitter, Jack Dorsey berhasil diretas pada Jumat (30/8). Beberapa cuitan mengandung tagar #ChucklingSquad yang diyakini merupakan identitas kelompok peretas.

Twitter mengatakan bahwa nomor telepon yang digunakan oleh akun Dorsey telah dibobol karena penyedia jaringan melakukan kesalahan dalam pengamanan. Akibatnya, peretas bisa mengunggah cuitan menggunakan layanan pesan singkat (SMS).

Peretasan ini terjadi hanya beberapa saat setelah Dorsey dan Twitter bergerak agresif untuk membersihkan konten-konten yang tak layak atas nama "keamanan".
Konsultan keamanan yang berbasis di Inggris, Graham Cluley, mengatakan insiden ini merupakan bukti betapa pentingnya pemeriksaan ganda, dengan seorang pengguna mesti mengonfirmasi akun mereka melalui layanan eksternal.

"Meski ini terlihat buruk, penting untuk mengingat bahwa ini bukan peretasan tingkat tinggi," kata R. David Edelman, Direktur Proyek Keamanan Teknologi, Ekonomi, dan Nasional di Institut Teknologi Massachusetts. (din/age)