TKDN Bima 60 Persen, Esemka Disebut Fokus di Perdesaan

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Senin, 09/09/2019 17:09 WIB
TKDN Bima 60 Persen, Esemka Disebut Fokus di Perdesaan Tingkat Kandungan Lokal Dalam Negeri (TKDN) mobil Esemka Bima diklaim sebesar 60 persen.. (Foto: CNN Indonesia/Sri hartono))
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sangat mengapresiasi peresmian pabrik Esemka di Boyolali, Jawa Tengah. Esemka diharapkan bisa bersaing dengan merek otomotif yang sudah lebih dahulu masuk Indonesia.

Selain meresmikan pabriknya, PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) juga memperkenalkan pikap Bima 1.200 cc dan Bima 1.300 cc yang menyasar masyarakat perdesaan.

"Esemka mengambil posisi untuk pasar di perdesaan dengan membangun mobil-mobil angkutan barang," kata Budi Karya mengutip dari situs resmi Kementerian Perhubungan (Kemenhub) pada Senin (9/9).


Tingkat Kandungan Lokal Dalam Negeri (TKDN) mobil Esemka diklaim sebesar 60 persen. TKDN yang dikantongi Esemka diakui Budi potensi bisa bersaing dengan merek mobil lain di Indonesia dari sisi harga jualnya.

"Saya yakin Esemka dapat diterima di masyarakat. Harganya kompetitif dan juga saya pikir untuk negara-negara tertentu dapat dipasarkan namun kami masih konsentrasi di dalam negeri karena kebutuhan untuk industri dan pertanian sangat banyak sekali," ucap Budi.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengakui bahwa PT SMK masih mengimpor komponen, kendati lebih dari 30 industri komponen lokal siap memenuhi kebutuhan SMK dalam memproduksi kendaraan.

"Saat ini, PT SMK telah bekerja sama dengan lebih dari 30 industri penyedia komponen otomotif lokal dan sudah melakukan persiapan untuk produksi massal," ucap Airlangga.

Selain Bima, SMK telah mendaftarkan enam tipe kendaraan yang empat di antaranya mobil komersial Digdaya dan Borneo dan sudah lulus uji coba.

Masa depan mobil listrik Esemka

Presiden Joko Widodo sebelumnya sudah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan bermotor Listrik Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan.

Budi menjelaskan Esemka belum akan menjamah pasar kendaraan listrik dalam waktu dekat. Perusahaan bakal fokus di perdesaan dengan mobil bermesin bakar dalam atau konvensional.

Menurut Budi Esemka untuk tahap awal sudah menyesuaikan produknya untuk memenuhi kebutuhan konsumen di daerah sehingga belum saatnya masuk ke segmen kendaraan listrik, yang mana diakui Budi kendaraan tanpa emisi gas buang saat ini sangat dibutuhkan di kota besar dengan tingkat polusi relatif tinggi.

"Untuk masa depan memang mobil listrik menjadi keniscayaan tetapi mobil listrik itu lebih banyak untuk perkotaan. Dikarenakan tingkat polusi di perkotaan sangat tinggi sehingga mobil listrik difokuskan di perkotaan dan juga mobil listrik juga membutuhkan infrastruktur lain seperti charger station," ujar Budi. (ryh/mik)