Analisis

Ketertutupan Esemka dan di Balik 'Kampanye' Panjang Jokowi

Febri Ardani, CNN Indonesia | Kamis, 12/09/2019 08:09 WIB
Ketertutupan Esemka dan di Balik 'Kampanye' Panjang Jokowi Foto: CNN Indonesia/Sri hartono
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) dinilai sebagian orang sedang bersikap menutup diri dan berusaha 'irit' berkomunikasi kepada publik usai meresmikan pabrik Esemka di Boyolali, Jawa Tengah, pada pekan lalu. Hingga saat ini masih banyak pertanyaan publik soal Esemka yang belum terjawab dan bikin spekulasi liar bertebaran terutama di media sosial.

Esemka yang dimulai pada 2007 merupakan proyek perakitan mobil oleh siswa Sekolah Menengah Kejuruan di Solo. Namanya mulai mencuat sejak 'nebeng' popularitas Joko Widodo (Jokowi) yang karirnya menanjak dari menjabat wali kota Solo (2005-2012), Gubernur DKI Jakarta (2012-2014), hingga presiden (2014-2019 dan 2019-2024).

Pada periode sebelum Pemilihan Presiden yang digelar 17 April lalu, pihak Esemka sudah menunjukkan ketertutupan. Sekelumit pembenahan manajemen dan perbaikan sana-sini tidak diketahui masyarakat umum sampai akhirnya pihak SMK hadir di acara yang digelar Kementerian Perindustrian pada 13 Agustus.


Pada acara yang dihadiri media itu, Presiden Direktur SMK Eddy Wirajaya punya agenda menandatangani Letter of Intent dengan Perkumpulan Industri Kecil Menengah Komponen (PIKKO) Indonesia. Tujuannya agar proses produksi kendaraan Esemka didukung lebih banyak pemasok lokal serta meningkatkan tingkat kandungan lokal.

Selain itu, Eddy juga menjelaskan segala macam situasi Esemka ke hadapan media. Salah satu poin yang ditegaskan olehnya yaitu Esemka bukan mobil nasional melainkan 'merek nasional' yang produknya diproduksi di Indonesia.

Usai acara Kemenperin, SMK meresmikan pabrik di Boyolali pada 6 September. Dari sini informasi lebih banyak soal Esemka terungkap, namun selain itu juga bikin makin banyak pertanyaan yang muncul.

Pertanyaan yang belum terjawab tentang dugaan keterkaitan produk pertama Esemka, pikap bernama Bima, dengan produk asal China bernama Changan Star Truck. Banyak orang menilai desain eksterior Bima mirip Star Truck dan kecurigaan makin mencuat sebab terdapat kesamaan jenis mesin.

Menurut spesifikasi resmi yang diberikan SMK, Esemka Bima 1.2 menggunakan mesin 1.200 cc DOHC E-Power I4 bertenaga 96,5 tenaga kuda dan torsi 119 Nm. Sedangkan menurut spesifikasi resmi Changan Global, Star Truck tercatat punya jenis mesin yang sama, yakni E-Power I4, bertenaga 96,5 hp namun torsinya lebih kecil, 112 Nm.

Sepekan sejak dugaan itu muncul, belum ada pernyataan resmi dari SMK yang menjelaskan kesamaan jenis mesin Bima dengan Star Truck. Eddy yang berulang kali dihubungi CNNIndonesia.com melalui telepon seluler tidak bisa terjangkau.

Pertanyaan soal Esemka itu akhirnya ditanyakan ke berbagai pihak, termasuk Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang merupakan pembina pelaku industri Tanah Air. Walau begitu, jawaban yang diungkap juga tidak bisa spesifik sebab tidak ada komunikasi dari SMK.

"Jadi mestinya dibedakan mana pertanyaan untuk mestinya pemerintah (yang jawab), mana yang ke tingkat perusahaan," kata Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kemenperin Putu Juli Ardika di Jakarta, Rabu (11/9).

Perhatian pemerintah kepada Esemka dinilai cukup intens bila dibandingkan perlakuannya ke merek nasional lain yang saat ini terus berjuang bertahan hidup seperti Fin Komodo. Meski begitu, Putu menampik ada perlakuan spesial yang diberikan Kemenperin kepada Esemka.

"Enggak ada. Makanya yang sebenarnya meramaikan itu wartawannya, kami sebagai pemerintah siapapun yang mau investasi otomotif itu kami fasilitasi dengan perlakuan yang sama," ucap Putu.

Putu berjanji bakal bicara dengan pihak SMK dan memfasilitasi komunikasinya ke publik melalui media. Kata dia mesti dicari tahu lebih dulu, apakah sikap diam yang ditunjukkan SMK merupakan strategi perusahaan.

"Ya nanti kami fasilitasi, apa dia strategi biar orang-orang bertanya-tanya sehingga penasaran jadi menjual namanya, kan bisa jadi. Nanti kami coba fasilitasi," ucap Putu.

Kritik buat Esemka

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bima Yudhistira menyampaikan beberapa hal yang dikritisi terkait kehadiran Esemka. Hal pertama yang disebut terkait jumlah komponen perakitan produk yang masih impor.

SMK pernah menyampaikan tingkat kandungan lokal Bima mencapai 60 persen, sementara sisanya diimpor. SMK diketahui telah bekerja sama dengan setidaknya 26 pemasok lokal dalam negeri buat proses produksi.

"Yang perlu dikritisi yang jelas komponen impor masih banyak, itu yang mesti dikurangi karena dengan komponen impor yang semakin sedikit artinya kan membantu penurunan defisit transaksi berjalan dan defisit perdagangan," ucap Bima.

Hal kedua yang dikritisi yaitu tentang kehadiran Esemka yang memproduksi kendaraan berbasis mesin pembakaran dalam. Padahal seperti diketahui, saat ini pemerintah sedang menggiring industri otomotif ke arah elektrifikasi.

Bima juga mempertanyakan momentum kelahiran Esemka di tengah perlambatan kondisi ekonomi Indonesia. Menurut dia penjualan mobil niaga sejauh semester satu di Indonesia sedang anjlok.

Pertanyaan, apakah campur tangan pemerintah bisa mendongkrak penjualan Esemka? Ini belum bisa terjawab, sebab sejak peresmian pabriknya belum terungkap jelas strategi pemasaran Esemka di Tanah Air.

"Jadi persaingan akan semakin ketat. Jadi apakah momentum yang tepat sekarang ketika ekonomi melambat sehingga penjualan mobil niaga tidak terlalu menarik," ucap Bima. (mik)