Si jenius yang pernah kuliah di Universitas Teknologi Rhein Westfalen (RWTH) Aachen, Jerman, ini pernah dijuluki Mr. Crack karena menemukan Proggresion Crack Theory yang akhirnya dikenal dengan istilah Habibie Theory.
Teori yang ditemukan Habibie ini mampu mengkalkulasi keretakan pesawat karena proses terbang landas dan membantu rancang bangun desain pesawat modern buat menghindari kecelakaan. Hitung-hitungan Habibie sangat detail sampai ke tingkat atom material pesawat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prototipe kedua, N-250 PA-2 versi Krincing Wesi berkapasitas 70 penumpang, lahir pada 1996.
Namun proyek ini sempat dihentikan oleh Soeharto pada 1998 atas rekomendasi International Monetary Fund (IMF). Saat itu Indonesia mengalami krisis moneter.
Proyek N-250 merupakan cikal bakal lahirnya pesawat lain buatan Indonesia, yaitu R80 yang diproduksi PT Regio Aviasi Industri (RAI). Perusahaan ini didirikan Habibie bersama putranya, Ilham Habibie.
Prototipe R80 yang sanggup menampung 80-90 penumpang pernah dipamerkan di Bekraf Habibie Festival di JIExpo Kemayoran, Jakarta pada 7-13 Agustus 2017. Menurut Ilham butuh waktu empat tahun buat merancang prototipe itu dan diharapkan bisa terbang pertama pada 2023 kemudian diserahkan ke konsumen setidaknya pada 2025.
Lihat juga:Ketika Habibie Sebut Ronaldo Ganteng |
Karya Habibie lain adalah VTOL ( Vertical Take Off & Landing ) Pesawat Angkut DO-31, Hansa Jet 320, Airbus A-300 yang mampu menampung 300 penumpang, CN-235, Helikopter BO-105, Multi Role Combat Aircraft (MRCA).
Pesawat-pesawat itu merupakan aset dan ilmu pengetahuan bangsa yang akan dikenang selamanya buat kemajuan Indonesia. Habibie wafat di usia 83 tahun di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Rabu (11/9). (fea/mik)