Air circulator berbeda dari double blower meski letak keduanya sama yakni di plafon. Cara kerja air circulator tanpa evaporator pada Calya yakni mengisap embusan udara dingin yang dikeluarkan ventilasi AC di dasbor lalu ditiup ke area belakang kabin sebab itu fitur ini kerap diibaratkan sebagai kipas angin.
Cara kerja itu berbeda dari double blower yang mendapat suplai udara dingin langsung dari kompresor AC yang terkoneksi dengan mesin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi lebih banyak masukkan konsumen memang merasa terbiasa dengan double blower tapi dari ukuran sisi penurunan suhu sendiri sebenarnya masih bisa diterima, yang kami harapkan," ucap Anton saat peluncuran Calya baru di Jakarta, Senin (16/9).
Penggunaan air circulator dipahami sebagai alternatif kontrol suhu di kabin untuk menekan biaya produksi Calya yang dilakukan oleh Astra Daihatsu Motor (ADM). Calya merupakan produk Low Cost Green Car (LCGC) yang desain awalnya disesuaikan spesifikasi tertentu yang sudah ditetapkan pemerintah.
Anton menyampaikan ada hal yang dipertimbangkan untuk menambah fitur double blower pada Calya, yaitu soal konsumsi bahan bakar. Salah satu efek double blower diketahui bikin berat kerja mesin yang bisa menambah konsumsi bahan bakar.
"Karena kalau kami tambahkan double blower sebenarnya ada hal lain yang dikorbankan, contohnya adalah konsumsi bahan bakar. Itu yang mungkin kami pertimbangkan sehingga saat ini kami masih mempergunakan air conditioning yang ada sekarang. Rasanya masih bisa memenuhi pendinginannya, tapi bisa mempertahankan konsumsi bahan bakar yang sangat baik," ucap Anton.
ADM yang meluncurkan Sigra pada hari yang sama juga diketahui tidak mengubah fitur air circulator. "Jadi ini soal harga. Lagi pula tidak ada keluhan konsumen atas penggunaan air circulator," ucap Direktur Pemasaran ADM Amelia Tjandra. (fea)